Ini bukan pertama kalinya aku merasakan
hal seperti ini. Terlalu berlebihan mungkin tapi benar aku sungguh tak suka ada
wanita yang dekat denganmu.
Entah mengapa, aku begitu malu menyebut ini cemburu. Cemburu bukankah hanya berlaku pada orang yang sudah saling memiliki? Sedangkan hubungan kita tak lebih hanya sebatas kakak-adek saja. Bukankah ini begitu menyesakkkan dadaku. Setiap malam aku harus terus menahan peluh yang memaksa keluar dari bola mataku. Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tak akan pernah menangisi lelaki (lagi). Karena untuk apa harus menangisi seorang pria bila akhirnya aku hanya akan ditinggalkan akhirnya.
Entah mengapa, aku begitu malu menyebut ini cemburu. Cemburu bukankah hanya berlaku pada orang yang sudah saling memiliki? Sedangkan hubungan kita tak lebih hanya sebatas kakak-adek saja. Bukankah ini begitu menyesakkkan dadaku. Setiap malam aku harus terus menahan peluh yang memaksa keluar dari bola mataku. Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tak akan pernah menangisi lelaki (lagi). Karena untuk apa harus menangisi seorang pria bila akhirnya aku hanya akan ditinggalkan akhirnya.
Sesak rasanya mengetahui kau banyak
penggemarnya, tolong jelaskan padaku, yang sering bersamamu itu siapa? Apa dia
wanitamu atu hanya sebetas "teman"mu? Ah aku benar-benar begitu
cemburu. Kau sendiri juga menyebalkan, tak pernah mau berusaha menjelaskan
padaku apa dia wanitamu atau hanya temanmu. Haha tapi untuk apa kau menjelaskan
padaku bila kita tak pernah ada hubungan sampai kesitu, ke hubungan yang lebih
dari kakak-adekan, kehubungan yang saling menjaga salingmengerti saling
melengkapi untuk saling membahagiakan satu sama lain. Ah begitulah yang
kuimpikan, begitu tinggi ya? Ini mungkin seperti fatamorgana dalam bayanganmu.
Tapi aku tak apa walau ini hanya mimpi,
bermimpi saja sudah begitu membahagiakanku bagaimana kalau kau membuat itu jadi
nyata? Haha kau mungkin tertawa atas permintaanku yang konyol ini. Oh ya
kemarin lagi-lagi wanita itu menyebut namamu dalam sebuah status barunya di
media sosial. Kau tau bagaiaman raut mukaku saat itu, rasanya ingin sekali aku
mendatangi wanita itu dan berkata, bahwa kau milikku. Tapi hatiku
menyadarkanku, kau sama sekali belum (pernah) jadi milikmu. Haha rasanya ingin
sekali menangis sambil mendengar alunan melodi lambat,mengingatkanku bahwa kau
bukan milikku. Sakit sekali ternyata rasanya mengetahui kenyataan, pahit benar.
Tak seindah palsunya. Nyatanya benar kau bukan milikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar