"Cinta Tak Pernah Datang Terlambat."
Wanita tinggi semampai, berwajah indo seperti
artis korea itu mulai turun melewati beberapa anak tangga di depannya. Badannya
yang dibalut gaun warna merah jambu melengkapi keindahan tubuhnya.Semua yang
berada di ruangan itu terpesona oleh kecantikannya. Kecantikannya seperti bidadari
atau jangan-jangan ia titisan ratu Bidadari!Ah mungkinkah? Cara
berjalannya yang lemahgemulai.Benar-benar membuat orang yang melihatnya
terpana.
Tepuk tangan bersorak keras memenuhi
ruangan mewah itu saat wanita titisan bidadari itu tepat berdiridi depan para
tamu.
“Selamat malam, terimakasih telah datang
ke acara ini. Ya, selain untuk merayakan rumah baru saya di sini, juga untuk
memperingati ulang tahun putri saya Maya Caroline,"sambut Pak herlambang
mengwali acara.
O ternyata wanita titisan Bidadari itu bernama Maya dan ia adalah anak
direkturku di majalah “INSAN”.
Acara berjalan sangat lancar. Dari tadi aku hanya melihat wajah cantik Maya.
Ah.. tuhan benar-benar menciptakan makhluk paling sempurna di dunia ini.
Rambutnya yang pirang, bola matanya yang bersinar seperti cahaya rembulan,
hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis yang kemerah-merahan. Makhluk yang satu ini sepertinya tiada satu
pun kekurangan sungguh sempurna.
Paginya di kantorku semua
sibuk membicarakan Maya, titisan Bidadari itu. Entah kenapa aku tiba-tiba ikut
nimbrung di dalamnya.
“Eh.. denger-denger sih, si cantik Maya itu juga akan bekerja satu kantor
dengan kita!” kata Bima menggebu-nggebu.
“Beneran? Aku nanti akan
mengajaknya makan siang bersama di kedai Nusantara,” balas Rama tak kalah
semangatnya.
Kedai Nusantara adalah café elite menu-menunya sungguh istimewa, dulu aku
pernah sekali kesitu, itupun cuma karena sebuah keberuntungan, aku dan
teman-temanku mengadakan rapat terbuka untuk terbitan majalah ”INSAN. Aku
benar-benar terpesona oleh keunikan café itu. Café itu lebih pantas di sebut
sebagai museum, karena di dalamnya terdapat bermacam kebudayaan Indonesia. Meja
dan kursinya pun sangat khas. Terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran indah
menghiasinya. Menu-menunya pun sangat klasik, berbagai menu enak ada, dari yang
khas Indonesia sampai yang luar negeri telah tersedia. Sesuai dengan kualitas
bintang limanya, harganya pun juga bintang lima. Jadi jika aku ingin pergi
kesitu harus berpikir seribu kali terlebih dahulu, untuk mengajak Maya
makan ke kedai Nusantara itu.
Ternyata benar kata Bima pagi tadi. Kami semua di kumpulkan pak Herlambang
di ruang rapat.
“Selamat siang. Sengaja saya mengumpulkan kalian semuaTentunya kalian sudah
kenal dengan wanita di samping kiri saya ini,” sambut pak Herlambang sambil menunjuk putrinya, Maya.
“Maya ini akan bekerja sama dengan kita sebagai wakil saya saat saya sedang
tidak berada di tempat,”
sambunganya.
“Selamat siang semuanya, mulai hari ini saya akan bekerja disini. Kita semua
akan bekerja bersama-sama dan membangun majalah INSAN untuk yang lebih baik,"ucapnya di sertai
semnyum manis menghiasi bibir merahnya.
Hampir semua kaum adam di
kantorku tergila-gila pada titisan Ratu Bidadari itu, begitu juga denganku. Apalagi jumlah pria dan wanita di kantor
kami berbanding 3 :1 baayangkan saja setiap pagi sellau ada keributan kaum pria
membicarakan Maya. Apalagi Maya si gadis cantik itu selau menyempatkan diri
untuk berbaur dengan para karyawannya,Berbeda dengan Pak Herlambang yang selalu
sibuk mengurusi para client. Aku yang disini menjabat sebagai staf redaksi ,
sering dikunjungi Maya. Setiap ia bertanya seuatu hal tentang majalah INSAN
jantungku selalu bergdegup sangat cepat. Aku selau gugup menanggapi
pertanyaan-pertanyaannya. Walaupun sebenarnya masih ada tiga staf redaksi
lainnya tapi entah kenapa ia selalu lebih banyak bertanya padaku. Dia
benar-benar membuatku besar kepala. Bahkan rencananya aku akan diajak
Maya makan di kedai Nusantara untuk terbitan majalah Insan bulan depan.
“Bila tidak sibuk, saya ingin mengajak kamu pergi makan bersama sambil
merapatkan terbitan majalah INSAN tahun depan.” Katanya ramah
Ha… mimpi apa aku semalam, bagai mendapat duriann runtuh saja, dan kata-kata
“bila tidak sibuk” itu sangat membuat aku semakin gugup, bukannya ia tak pernah
sibuk bahkan 50% waktunya dihabiskan untuk para karyawannya. Ah.,..
berarti dekat-dekat ini aku akan nge date bersama si titisan ratu Bidadari itu.
Ha… nge date,
ah… janganberfikirnglantursudahdiajakmakansaja Alhamdulillah!
Inginnya aku melonjak senang, dan mempamerkan pada semua teman-temanku.Tapi tidak
usahlah, itukan namanya sombong nanti kalau aku pamerkan bisa-bisa aku tidak jadi makan bersamanya. Sudahlah sudah.Aku terus
menunggu, kapan Maya si cantik itu mengajakku ke kedai Nusantara,
Pagi,siang,Malam aku terus berdoa pada Tuhan. Hingga
saat yang kunanti-nanti tiba juga.
“Damar,” panggilnya ramah.
“Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?” jawabku, dengan penekanan kata Bu.
Sebenarnya Bu itu
tak pantas untuk gadis seusia Maya ini, tapi apa yang harus kukatakan? Tak
mungkin aku memanggilnya Maya langsung atau Mbak Maya kan, tidak sopan.
“Emmmm, tolong
jangan Panggil saya Bu, panggil saja Maya,” jawabnya seolah dapat membaca pikiranku.
“Iya Bu, eh maaf Maya,” katakucanggung.
“Oh, iya Damar kamu besok ada acara tidak
aku ingin mengajakmu ke kedai Nusantara sesuai janjiku, kita akan merundingkan terbitan
Majalah Insan untuk bulandepan,” katanya.
Ahai, benar saja
tadi malam aku mimpi kejatuhan durian. Jadi ini maksudnya.
“Cuma berdua saja
Bu, eh Maya?” tanyaku.
“Emmm, tidak kita
akn dengan beberapa Staf majalah Insan,” jawabnya dengan senyum mengias wajah
bidadarinya.
“Aduh, pantas saja
kemarin mimpiku masih berkelanjutan, setelah kejatuhan durian ,aku kejatuhan
semangka, pantas saja,” jawabku dalam hati saja tentunya.
Baju yang kubeli
kemarin lusa, segera ku setrika ku semprotkan parfum kanan-kiri, atas-bawah. Sepatu ku kusemir hitam, rambut hitamku
kupotong cepak ala artis
jaman sekarang, sengaja untuk merapikan rambutku yang kata temanku
sedikit awut-awutan. Sehari sebelum “Kencan” dengan titisan Bidadari itu aku
pergi ke salon, merapikan tatanan wajahku. Menurutku sih aku “Ganteng” ini sih
masih menurutku, entah kata teman-temanku.
Dengan modal wajah
yang separo “Ganteng” dan tampilan yang menurutku memuaskan, ku
langkahkan kakiku menuju sepeda motorku. Taklupa, kemarin Sore
akumencucimotorkusampaiterlihatmengkilap.Inimemangterlihatlebay, tapimungkinini
yang jugaakanandalakukansaatandamersakan “sesuatu” itu. Seuatu apa? Ah entahlah.
Ternyata aku jadi yang pertama sampai di
kedai Nusantara. Ya tak apalah cari muka sedikit dengan Maya biar dikira
karyawan teladan. Tempat duduk yang kupilih yang paling nyaman untukku, dekat
jendela. Dari sini aku lebih leluasa memandang keluar menikmati panorama buatan
kedai Nusantara.Tak lama menunggu beberapa temanku datang. Semuanya telah siap
membahas rapat tentang terbitan majalah INSAN bulan depan. Kami hanya tinggalsi
cantik Maya. Sembari kami menunggu Maya kami sengaja memesan makanan yang sudah
kami pesan sehari sebelum kami kesini. Cukup lama kami menunggu titisan bidadari
itu. ia mungkin terjebak macet. Pada menit ke 30 kami menunggu akhirnya Maya
datang dengan senyum mengembang membentuk lesung pipit diantara pipinya. Aku
tak tahu apa Maya ini dulu seorang model atu bagaimana karena pakaian yang ia
gunakan selalu mampu mebuat orang terpana memandangnya. Hari ini ia memakai
baju santai, baju lengan panjang warna merah muda dengan motif
garis-garis tegak warna putih. Serta celana jeans warna pink menegaskan begitu
feminimya ia. Tak cukup itu rambutnya yang ia urai ia beri hiasan jepit bunga
warna putih di sisi kirinya.
Sebelum kami memulai rapat kami sengaja
makan terlebih dahulu karena makanan sudah terlanjur di bawa ke meja kami. Maya
benar-benar gadis sempurna cara makannya pun seperti seorang puteri yang biasa
kulihat di tv. Aku heran apa sebenarnya kekuarangannya. Rapat hari itu berjalan
lancar kami sudah memutuskan akan menerbitkan berita apa saja untuk
majalah kami bulan depan.
Seperti biasa paginya kami karyawan
kantorku langsung membicarakan kegiatan kemarin di meja Rama, bukan masalah
penerbitan majalah tapi masalah penampilan Maya lagi. Mereka seperti fans
fanatisnya Maya. Sebenarnya aku juga ingin ikut nimbrung tapi masalah berita
yang harus kutulis ulang, membuatku tak dapat ikut menggosip ala ibu-ibu arisan
itu. Sebenarnya cukup menyesal tak ikut menggosip tapi biarlah. Seperti
keburuntungan untukku tiba-tiba Maya datang dan menegur orang-orangyang sedang
berkerumun di meja Rama.
"Untung saja," jawabku seraya
mengelus dada.
"Damar?" panggilnya
mengagetkanku karena tiba-tiba ia sudah di belakangku dengan senyum manis
menghiasi bibir merahnya.
"Ah, maaf mengagetkanmu,"
katanya lagi.
"Oh, iya Bu eh maksud saya Maya. Ada
yang bisa saya bantu?" kataku gugup.
Ahh wanita ini benar-benar mampu
memporak-porandakan hatiku.
"Ya jelas banyak yang harus kamu
bantu untuk saya, kamu kan staf redaksi," katanya seraya tersenyum.
"Mm.. Maaf Maya bukan maksud saya
tidak mau tapi kan disini staf redaksi bukan hanya saya, ada Bagas, ada
Bima,dan Ranti" kataku mencoba santai.
"Tapi Damar, apa kamu lihat ada
orang ang lebih serius di banding kamu saat ini? Selama saya di sini tidak ada
yang lebih cakap dari kamu. Kamu hari ini segera ke ruangan saya ya,"
katanya masih dengan senyuman yang sama.
Alamak, ini aku bermimpi atau bagaimana.
Ia lagi-lagi membuatku lumpuh tak berdaya.
Dan setiap harinya jantungku selalu
dibuat sesak oleh titisan bidadari itu. Bagaimana tidak tiba-tiba dia meminta
nomorku, alasanya sih normal, dia butuh nomroku untuk menghubungiku
sewaktu-waktu apabila dia butuh bantuanku. Kontan saja hatiku benar-benar
bahagia rasanya. Aku tak tahu bagaimana warna wajahku, tapi jujur aku
benar-benar bahagia. Setidaknya nanti aku bisa lebih sering berkomunikasi
dengannya.
Ah Tuhan. Ini untuk pertama kalinya aku
benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh seorang wanita. Tadinya yang aku malas
ngisi pulsa sekarang sering banget beli pulsa, yang jual saja sampai
terheran-heran.
"Punya pacar baru ya dek?" Kata
Ibu penjual pulsa itu.
"Ah enggak Bu, buat kepentingan
kerja saja," jawabku santai.
Setelah itu akan segera menghubunginya
mencoba basa-basi tentang pekerjaan, dan selanjutnya aku tak punya pertanyaan
yang harus kutanyakan lagi padanya. Ingin sih rasanya sms dia bergaya kasih
perhatian "sudah makan apa belum?" tapi takutku nanti pencitraannya
malah sok asik. Aku kan bawahan dia, sedangkan dia atasanku, anak bosku. Aneh
kalau seorang bawahan bertanya seperti itu kecuali ada rasa. Oh jangan sampai
dia tahu kalau aku suka atau tepatnya tergila-gila dengan dia. "Cukup pada
batasnya saja," kataku mengingatkan diri.Kalau sudah tak ada yang dibahas
sms itu "terpaksa" berhenti, kecuali dia tanya suatu hal padaku.
Dan setelah kejadian meminta nomorku lagi-lagi Maya meluncurkan aksinya lagi ,
memporak-porandakan hatiku, membuatnya tak karuan. Kau tahu? Dia mengajakku
makan siang berdua, ya berdua tanpa siapapun tanpa karyawan lainnya hanya kita
berdua. Ini benar-benar gila mungkinkah dia suka padaku? Ah, mimpi saja aku
ini, tapi mimpi saja sudah seindah ini bagaimana bila nyata. Seperti katanya
kami makan siang bersama di luar kantor aku naik mobilnya.
"Hoalah Ma, Darma. Dia saja naik mobil lah kamu, Cuma kuat naik sepeda
motor bangun Ma dari mimpimu jangan sampai suka sama dia," kataku dalam
hati.
"Darma, kok diam aja dari tadi?" kata Maya mengagetkan lamunanku
tentangnya.
"Eh, Maya. Memang disuruh ngomong apa?" jawabku.
"Ya, terserah kamu, kamu mau share apa sama aku atau tanya-tanya sama
aku, kan enak kalu garing gini," kata Maya seperti biasa dengan senyum
lesung pipitnya.
"Mm Maya udah punya pacar belum?" kataku sontak mengagetkan diriku
sendiri.
"Ya Ampun kenapa keceplosan gini, aduh kepikirannya itu mulu sih, aduh
Maya," kataku dalam hati. Entah bagaimana kini raut mukaku aku sendiri tak
tahu harus melakukan apa.
"Hihihi, menurut Darma gimana? Saya sudah keliatan sudah punya pacar atau
belum," katanya dengan senyumnya.
"Ya ya nggak tahu," jawabku gelagapan.
"Hihihi kamu lucu Dar, kenapa kok tanya begitu?" dan kali ini aku
benar-benar skak mat, oh Tuhan aku harus menjawab apa?
"Itu teman-teman suka tanya-tanya," jawabku sekenanya.
"Oh, begitu," jawabnya masih dengan senyum pelumpuh raga itu.
Makan bersama siang iu berjalan asyik, dia bercerita tentang hidupnya sebelum
di Indonesia, tentang keluarganya dan benar saja dugaanku bahwa dia pernah
menjadi seorang model salah satu majalah di Paris. Ceritanya semakin membuatku
putus asa untuk mendekatinya ia seperti menegaskan bahwa kita jauh berbeda. Dan
yang semakin membuatku gila adalah saat dimana Maya membawa seorang lelaki ke
kantor dan kudengar dari asisten Maya bahwa itu tunangannya. Sontak saja para
kaum adam di kantorku patah hati, wanita yang selama ini mereka idam-idamkan
ternyata sudah mempunyai tunangan. Berarti saat kutanya satu bulan yang lalu
itu, dia sudah punya pacar. Astaga, benar-benar memalukan. Kenapa dia tidak bilang
saja aat itu.
Seperti orang patah hati pada umumnya, hari ini kuhabiskan untuk melakukan
hal-hal yang mungkin bisa menyibukkanku tapi nyatanya itu malah membuatku
semakin terpuruk, kali ini aku harus jujur pada diriku bahwa aku jatuh cinta pada
Maya. Anak bosku! Oh Tuhan harusnya dari awal aku sadar Maya tidak mungkin
tercipta untukku. Mungkin seperti wanita pada umunya ia akan memilih pria yang
sama mapannya dengannya.Dua bulan pertama setelah kutahu bahwa Maya telah
bertunangan, merupakan bulan yang paling buruk untukku. Kini aku sengaja
menjaga jarak dengan Maya. Bukan karena untuk cepat melupakan saja tapi untuk
menghidari rasa maluku tempo lalu yang lancang bertanya padanya "Sudah
punya pacar belum?" pada Maya.
Maya seperti menyadari kejanggalan sikapku, esok harinya ia memanggilku untuk
ke ruangannya. Aduh, aku takut ia bertanya macam-macam.
"Permisi," kataku datar.
"Oh Darma, silahkan masuk," kata Maya seperti biasa masih
dengan senyumyang membuat semua kaum adam terpana bila memandangnya.
"Begini Darma, sebenarnya saya sedikit kecewa dengan yang kamu
lakukan," kata Maya mengawali pembicaraan.
Oh Tuhan! Apa dia akan bicara tentang pertanyaanku di mobil tempo lalu?
"Ini mungkin pilihan kamu, tapi saya sebenarnya kurang setuju apalagi Papa
banyak bercerita tentang keunggulan kamu di banding yang lainnya," kata
Maya.
Tunggu sebentar, apa yang sebenarnya yang Maya bicarakan? Ia tak membahas
kejadian tempo lalu. Ah, syukurlah.
"Maaf memotong, maksudnya bagaimana ya? Saya tidak paham arah pembicaraan
ini," kataku, kali ini dengan santai.
"Ini kamu lihat sendiri," katanya seraya menyerahkan amplop coklat.
Apa ini? Apa dia akan memecatku?
"Mungkin itu keputusanmu tapi apa kamu sudah yakin akan meninggalkan
kantor ini?" tanyanya.
Oh, ternyata ini tanda diterimanya aku disalah satu universitas di Singapura
dengan biaya beasiswa penuh dari pemerintah. Aku bahkan sudah lupa, kapan aku
mengirimkan permohonan ini, tapi ini benar-benar mengejutkan.
"Kamu benar akan berangkat kesana Darma?" tanya Maya
lagi.
"Saya sebenarnya berat meninggalkan kantor ini, tapi ini salah satu
mimpi saya, saya tidak punya pilihan lain," jawabku.
"Baiklah, bila seperti itu."
"Permisi saya ijin keluar," kataku.
"Sebentar Darma tidak adakah hal yang ingin kamu katakan pada saya sebelum
kamu pergi?" tanya Maya lagi.
Pertanyaan? Apa maksudnya. Sejauh ini tidak ada pertanyaan yang ingin
kutanyakan selain masalh perasaan dia padaku. "Darma inget Dar, dia sudah
bertunangan!" kataku mengingatkan diriku lagi.
"Tidak ada Maya, semua pekerjaan sudah beres saya lakukan," jawabku
datar.
Malamnnya aku segera mengurus semua kebutuhanku untuk berangkat ke Singapura.
Untuk urusan transport semua sudah di tanggung pemerintah. Ini benar-benar
berkah untukku. Satu bulan sebelum tahun ajaran baru, aku harus segera
berangkat ke Singapura. Aku terpaksa meninggalkan semuanya,meningalkan
pekerjaanku, rasaku terhadap Maya. Semuanya kutinggalkan.
*****
Kuliah S2 ku berjalan lancar, nilai 3,5 berhasil kuraih selama 3 tahun belajar
disini. Terimakasih Tuhan telah kau mudahkan segalanya. Selama kuliah
kufokuskan energi dan fikiranku untuk segera menyelesaikan kuliahku secepatnya.
Rencanaku setelah ini bukan untuk kembali ke Indonesia. Lukaku masih terlalu
basah untuk kembali "menceburkan" diri pada luka yang sama. Maya, ya
dia kini mungkin sudah menikah dengan tunangannya.
Sejujurnya, sebelum aku tahu bila Maya sudah bertunangan aku sudah menuliskan
sebuah surat serta beberapa bait puisi untuknya. Tapi entah dimana surat itu
sekarang, aku sudah lupa menaruhnya mungkin sudah hilang bersama asaku.
Setelah usai kuliah aku mulai magang di salah satu kantor redaksi di Malayasia.
Karena bahasa negara kami yang serumpun, membua kami lebih mudah untuk saling
memahami bahasa masing-masing, walau sebenarnya aku harus memaksakan diri untuk
berbicara logat mereka. Satu Tahun di Malaysia benar-benar membuatku tak ingin
pulang ke Indonesia, selain faktor gaji yang lebih mencukupi juga masih soal
hati.
Sore hari di Malaysia selalu kesempatkan untuk berkunjung di salah satu
perpustakaan terbesar di kota Johor, Malaysia. Disini banyak buku yang mampu
mebuatku lupa waktu bila ku sudah berada disini.
"Darma!" panggi seseorang di belakangku.
Refleks aku menoleh, dan kau tahu siapa dia. Dia Papa Maya.
"Pak Herlambang? Bagaimana anda bisa disini?" kataku kaget.
"Haha, kebetulan saya ada urusan di Malaysia," katanya.
"Oh iya, Darma semenjak saya dengar kamu ada beasiswa ke Singapura kamu
tidak pernah menghubungi saya, apa kamu sudah lupa dengan saya?"
tanya pak Herlambang.
"Tidak mungkin saya lupa dengan kebaikan Bapak dan Bapak, Pak Herlambang
ini bos terbaik yang pernah saya temui," jawabku.
"Darma-darma pandai benar kamu ini merayu, ngomong-ngomong sudah ada
gandengan belum hahaha."
Kali ini aku benar-benar berdegup karena Pak Herlambang, bukan karena
pertanyaannya, tapi karena wanita yang ada di belakangnya. Dia wanita yang
selama ini menjadi sumber dari segala hidupku, sumber inspirasiku, sumber
bahagiaku, sumber sedihku, serta sumber sakit hatiku. Ya! Dia Maya, dia ada
tepat di depanku sekarang.
"Darma?" kata Maya lirih.
"Maya, kamu sudah selesai pinjam bukunya? Ini nih karyawan terhebat Papa
sudah jadi penulis besar sekarang di Malaysia," kata Pak Herlambang seraya
menepuk bahuku.
Seperti biasa Maya sellau tersenyum sebelum berkata, tapi kali ini senyumnya
lebih manis, mungkin karena aku sudah jarang melihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" katanya
datar.
"Baik seperti yang kamu lihat,"
jawabku mencoba santai.
"Oh iya May, Papa masih ada urusan
sama salah satu penerbit buku di sini, Papa pergi dulu ya! Damar sukses
terus ya, kapan-kapan kalau ada waktu kita bertemu lagi. Saya pergi
dulu," kata Pak Herlambang.
"Aku ikut Pa," kata Maya
membuntuti Papanya.
Hatiku kembali sakit, kenapa dia harus
pergi tanpa bertanya lebih jauh tentangku. Ah Maya kau masih wanita nomor satu
dihatiku.
Selesai meminjam buku, aku segera pulang.
Ingin segera menulis seustu hal tentang apa yang baru saja kulalui hari ini.
Tapi tiba-tiba seseorang merengkuhku dengan kuat.
"Damar, jangan pernah pergi,"
kata seseorang dibelakangku lirih tepat di telingaku, suara ini sangat kukenal
sejak lima thun lalu, iya mungkin ini dia.
"Damar, berhentilah bermimipi,"
kataku mengingatkan diri lagi.
Tapi nyatanya rengkuhan itu semakin kuat,
dan aku sudah tak tahu harus berkata apa lagi. Dia benar-benar wanita yang
selama ini kupuja sejak lima tahun lalu.
"Maya, bagaiman kamu bisa.."
"Damar kamu jahat, kenapa kamu
ninggalin aku," katanya berlelehan air mata.
"Maya, apa maksud kamu?" kataku
mulai bingung.
"Aku sayang sama kamu Damar, kenapa
kamu sejahat ini pergi disaat aku benar-benar ingin mejadi milikmu,"
kata Maya masih menangis.
"Maya, kamu tenang dulu ya, kita
duduk dulu kamu jelasin semuanya aku nggak paham," kataku terheran-heran
dengan tngkahnya.
"Aku udah baca surat kamu,"
katanya kali ini dengan sedikit tenang.
"Surat apa?" tanyaku. Seingatku
aku tak pernah mengirimkan surat apapun pada dia selama aku di sini.
"Surat yang kau tinggal di mobilku
saat kau kuajak makan siang bersama, apa kamu lupa?" tanya Maya seraya
mengeluarkan secarik surat.
Astaga, itu suratku yang hilang! Bagaiman
itu bisa di tangan Maya.
"Kamu kira perasaanku mainan Mar,
kenapa kamu pernah serius sama perasaanmu kenapa kamu malah diemin aku, tterus
kamu pergi jauh dari aku, kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu suka
sama aku Mar, kenapa?" kali ini tangis Maya tak tertahankan.
"Karena.."
"Karena kamu sudah bertuanangan
Maya, kamu sudah akan menikah Maya, bagaimana bisa?" jawabku apa adanya.
"Kamu tahu Dar, dia itu temanku dia
sengaja untuk kubuat untuk menyatakan keseriusan kamu sama aku, tapi nyatanya
kamu malah pergi jauh meninggalkan aku dengan ketidak pastian." kata Maya
menjelaskan.
"Maya.. maakan aku,"
kataku seraya memeluknya erat. Erat sekali kali ini aku benar-benar tak ingin
melepasnya.
Kali ini jantungku dibuat berdegup lebih
kencang dari sebelumnya oleh wanita yang sama . Untuk cinta seharusnya kita
punya sedikit kekuatan untuk mengatakannya, atau dia akan pergi dan tahu kapan
kita akan menemukannya lagi. Ini mungkin sudah takdirku, Tuhan masih
mengijinkanku bertemu dengan wanita yang diam-diam sudah kucintai sejak pertama
berjumpa. Dia bukan lagi mimpi, dia kini nyata. Dia bukan lagi cinta yang
kupendam diam-diam, dia adalah cinta untuk masa depanku. Rindu yang dulu pernah
kupendam kini kugali kembali. Seperti cinta yang baru lahir tak ada kata yang
menjelaskan perasaan kami selain satu kata sederhana ini "Bahagia"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar