Senin, 07 Juli 2014

Kau Mimpi Dalam Nyataku

"Cinta Tak Pernah Datang Terlambat."

Wanita tinggi semampai, berwajah indo seperti artis korea itu mulai turun melewati beberapa anak tangga di depannya. Badannya yang dibalut gaun warna merah jambu melengkapi keindahan tubuhnya.Semua yang berada di ruangan itu terpesona oleh kecantikannya. Kecantikannya seperti bidadari atau jangan-jangan ia titisan ratu Bidadari!Ah mungkinkah? Cara berjalannya yang lemahgemulai.Benar-benar membuat orang yang melihatnya terpana.

Tepuk tangan bersorak keras memenuhi ruangan mewah itu saat wanita titisan bidadari itu tepat berdiridi depan para tamu.
“Selamat malam, terimakasih telah datang ke acara ini. Ya, selain untuk merayakan rumah baru saya di sini, juga untuk memperingati ulang tahun putri saya Maya Caroline,"sambut Pak herlambang mengwali acara.
            O ternyata wanita titisan Bidadari  itu bernama Maya dan ia adalah anak direkturku di majalah “INSAN”.
            Acara berjalan sangat lancar. Dari tadi aku hanya melihat wajah cantik Maya. Ah.. tuhan benar-benar menciptakan makhluk paling sempurna di dunia ini. Rambutnya yang pirang, bola matanya yang bersinar seperti cahaya rembulan, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis yang kemerah-merahan. Makhluk yang satu ini sepertinya tiada satu pun kekurangan sungguh sempurna.
            Paginya di kantorku  semua sibuk membicarakan Maya, titisan Bidadari itu. Entah kenapa aku tiba-tiba ikut nimbrung di dalamnya.
            “Eh.. denger-denger sih, si cantik Maya itu juga akan bekerja satu kantor dengan kita!” kata Bima menggebu-nggebu.
            “Beneran? Aku nanti akan mengajaknya makan siang bersama di kedai Nusantara,” balas Rama tak kalah semangatnya.
            Kedai Nusantara adalah café elite menu-menunya sungguh istimewa, dulu aku pernah sekali kesitu, itupun cuma karena sebuah keberuntungan, aku dan teman-temanku mengadakan rapat terbuka untuk terbitan majalah ”INSAN. Aku benar-benar terpesona oleh keunikan café itu. Café itu lebih pantas di sebut sebagai museum, karena di dalamnya terdapat bermacam kebudayaan Indonesia. Meja dan kursinya pun sangat khas. Terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran indah menghiasinya. Menu-menunya pun sangat klasik, berbagai menu enak ada, dari yang khas Indonesia sampai yang luar negeri telah tersedia. Sesuai dengan kualitas bintang limanya, harganya pun juga bintang lima. Jadi jika aku ingin pergi kesitu harus berpikir seribu kali terlebih dahulu, untuk mengajak  Maya makan ke kedai Nusantara itu.
            Ternyata benar kata Bima pagi tadi. Kami semua di kumpulkan pak Herlambang di ruang rapat.
            “Selamat siang. Sengaja saya mengumpulkan kalian semuaTentunya kalian sudah kenal dengan wanita di samping kiri saya ini,” sambut pak Herlambang sambil menunjuk putrinya, Maya.
            “Maya ini akan bekerja sama dengan kita sebagai wakil saya saat saya sedang tidak berada di tempat,” sambunganya.
            “Selamat siang semuanya, mulai hari ini saya akan bekerja disini. Kita semua akan bekerja bersama-sama dan membangun majalah INSAN untuk yang lebih baik,"ucapnya di sertai semnyum manis menghiasi bibir merahnya.
            Hampir semua kaum adam di kantorku tergila-gila pada titisan Ratu Bidadari itu, begitu juga denganku. Apalagi jumlah pria dan wanita di kantor kami berbanding 3 :1 baayangkan saja setiap pagi sellau ada keributan kaum pria membicarakan Maya. Apalagi Maya si gadis cantik itu selau menyempatkan diri untuk berbaur dengan para karyawannya,Berbeda dengan Pak Herlambang yang selalu sibuk mengurusi para client. Aku yang disini menjabat sebagai staf redaksi ,  sering dikunjungi Maya. Setiap ia bertanya seuatu hal tentang majalah INSAN jantungku selalu bergdegup sangat cepat. Aku selau gugup menanggapi pertanyaan-pertanyaannya. Walaupun sebenarnya masih ada tiga staf redaksi lainnya tapi entah kenapa ia selalu lebih banyak bertanya padaku. Dia benar-benar membuatku besar kepala.  Bahkan rencananya aku akan diajak Maya makan di kedai Nusantara untuk terbitan majalah Insan bulan depan.
            “Bila tidak sibuk, saya ingin mengajak kamu pergi makan bersama sambil merapatkan terbitan majalah INSAN tahun depan.” Katanya ramah
            Ha… mimpi apa aku semalam, bagai mendapat duriann runtuh saja, dan kata-kata “bila tidak sibuk” itu sangat membuat aku semakin gugup, bukannya ia tak pernah sibuk bahkan 50% waktunya dihabiskan untuk para karyawannya. Ah.,.. berarti dekat-dekat ini aku akan nge date bersama si titisan ratu Bidadari itu. Ha… nge date, ah… janganberfikirnglantursudahdiajakmakansaja Alhamdulillah!
            Inginnya aku melonjak senang, dan mempamerkan pada semua teman-temanku.Tapi tidak usahlah, itukan namanya sombong nanti kalau aku pamerkan bisa-bisa aku tidak jadi makan bersamanya. Sudahlah sudah.Aku terus menunggu, kapan Maya si cantik itu mengajakku ke kedai Nusantara, Pagi,siang,Malam aku terus berdoa pada Tuhan. Hingga saat yang kunanti-nanti tiba juga.
            “Damar,” panggilnya ramah.
            “Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?” jawabku, dengan penekanan kata Bu.
Sebenarnya Bu itu tak pantas untuk gadis seusia Maya ini, tapi apa yang harus kukatakan? Tak mungkin aku memanggilnya Maya langsung atau Mbak Maya kan, tidak sopan.
“Emmmm, tolong jangan Panggil saya Bu, panggil saja Maya,” jawabnya seolah dapat membaca pikiranku.
“Iya Bu, eh maaf Maya,” katakucanggung.
“Oh, iya Damar kamu besok ada acara tidak aku ingin mengajakmu ke kedai Nusantara sesuai janjiku, kita akan merundingkan terbitan Majalah Insan untuk bulandepan,” katanya.
Ahai, benar saja tadi malam aku mimpi kejatuhan durian. Jadi ini maksudnya.
“Cuma berdua saja Bu, eh Maya?” tanyaku.
“Emmm, tidak kita akn dengan beberapa Staf majalah Insan,” jawabnya dengan senyum mengias wajah bidadarinya.
“Aduh, pantas saja kemarin mimpiku masih berkelanjutan, setelah kejatuhan durian ,aku kejatuhan semangka, pantas saja,” jawabku dalam hati saja tentunya.
Baju yang kubeli kemarin lusa, segera ku setrika ku semprotkan parfum kanan-kiri, atas-bawah. Sepatu ku kusemir hitam, rambut hitamku kupotong cepak ala artis jaman sekarang, sengaja untuk merapikan rambutku yang kata temanku sedikit awut-awutan. Sehari sebelum “Kencan” dengan titisan Bidadari itu aku pergi ke salon, merapikan tatanan wajahku. Menurutku sih aku “Ganteng” ini sih masih menurutku, entah kata teman-temanku.
Dengan modal wajah yang separo “Ganteng”  dan tampilan yang menurutku memuaskan, ku langkahkan kakiku menuju sepeda motorku. Taklupa, kemarin Sore akumencucimotorkusampaiterlihatmengkilap.Inimemangterlihatlebay, tapimungkinini yang jugaakanandalakukansaatandamersakan “sesuatu” itu. Seuatu apa? Ah entahlah.
Ternyata aku jadi yang pertama sampai di kedai Nusantara. Ya tak apalah cari muka sedikit dengan Maya biar dikira karyawan teladan. Tempat duduk yang kupilih yang paling nyaman untukku, dekat jendela. Dari sini aku lebih leluasa memandang keluar menikmati panorama buatan kedai Nusantara.Tak lama menunggu beberapa temanku datang. Semuanya telah siap membahas rapat tentang terbitan majalah INSAN bulan depan. Kami hanya tinggalsi cantik Maya. Sembari kami menunggu Maya kami sengaja memesan makanan yang sudah kami pesan sehari sebelum kami kesini. Cukup lama kami menunggu titisan bidadari itu. ia mungkin terjebak macet. Pada menit ke 30 kami menunggu akhirnya Maya datang dengan senyum mengembang membentuk lesung pipit diantara pipinya. Aku tak tahu apa Maya ini dulu seorang model atu bagaimana karena pakaian yang ia gunakan selalu mampu mebuat orang terpana memandangnya. Hari ini ia memakai baju santai, baju lengan panjang  warna merah muda dengan motif garis-garis tegak warna putih. Serta celana jeans warna pink menegaskan begitu feminimya ia. Tak cukup itu rambutnya yang ia urai ia beri hiasan jepit bunga warna putih di sisi kirinya.
Sebelum kami memulai rapat kami sengaja makan terlebih dahulu karena makanan sudah terlanjur di bawa ke meja kami. Maya benar-benar gadis sempurna cara makannya pun seperti seorang puteri yang biasa kulihat di tv. Aku heran apa sebenarnya kekuarangannya. Rapat hari itu berjalan lancar kami  sudah memutuskan akan menerbitkan berita apa saja untuk majalah kami bulan depan.
Seperti biasa paginya kami karyawan kantorku langsung membicarakan kegiatan kemarin di meja Rama, bukan masalah penerbitan majalah tapi masalah penampilan Maya lagi. Mereka seperti fans fanatisnya Maya. Sebenarnya aku juga ingin ikut nimbrung tapi masalah berita yang harus kutulis ulang, membuatku tak dapat ikut menggosip ala ibu-ibu arisan itu.  Sebenarnya cukup menyesal tak ikut menggosip tapi biarlah. Seperti keburuntungan untukku tiba-tiba Maya datang dan menegur orang-orangyang sedang berkerumun di meja Rama.
"Untung saja," jawabku seraya mengelus dada.
"Damar?" panggilnya mengagetkanku karena tiba-tiba ia sudah di belakangku dengan senyum manis menghiasi bibir merahnya.
"Ah, maaf mengagetkanmu," katanya lagi.
"Oh, iya Bu eh maksud saya Maya. Ada yang bisa saya bantu?" kataku gugup.
Ahh wanita ini benar-benar mampu memporak-porandakan hatiku.
"Ya jelas banyak yang harus kamu bantu untuk saya, kamu kan staf redaksi," katanya seraya tersenyum.
"Mm.. Maaf Maya bukan maksud saya tidak mau tapi kan disini staf redaksi bukan hanya saya, ada Bagas, ada Bima,dan Ranti" kataku mencoba santai.
"Tapi Damar, apa kamu lihat ada orang ang lebih serius di banding kamu saat ini? Selama saya di sini tidak ada yang lebih cakap dari kamu. Kamu hari ini segera ke ruangan saya ya," katanya masih dengan senyuman yang sama.
Alamak, ini aku bermimpi atau bagaimana. Ia lagi-lagi membuatku lumpuh tak berdaya.
Dan setiap harinya jantungku selalu dibuat sesak oleh titisan bidadari itu. Bagaimana tidak tiba-tiba dia meminta nomorku, alasanya sih normal, dia butuh nomroku untuk menghubungiku sewaktu-waktu apabila dia butuh bantuanku. Kontan saja hatiku benar-benar bahagia rasanya. Aku tak tahu bagaimana warna wajahku, tapi  jujur aku benar-benar bahagia. Setidaknya nanti aku bisa lebih sering berkomunikasi dengannya.
Ah Tuhan. Ini untuk pertama kalinya aku  benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh seorang wanita. Tadinya yang aku malas ngisi pulsa sekarang sering banget beli pulsa, yang jual saja sampai terheran-heran.
"Punya pacar baru ya dek?" Kata Ibu penjual pulsa itu.
"Ah enggak Bu, buat kepentingan kerja saja," jawabku santai.
Setelah itu akan segera menghubunginya mencoba basa-basi tentang pekerjaan, dan selanjutnya aku tak punya pertanyaan yang harus kutanyakan lagi padanya. Ingin sih rasanya sms dia bergaya kasih perhatian "sudah makan apa belum?" tapi takutku nanti pencitraannya malah sok asik. Aku kan bawahan dia, sedangkan dia atasanku, anak bosku. Aneh kalau seorang bawahan bertanya seperti itu kecuali ada rasa. Oh jangan sampai dia tahu kalau aku suka atau tepatnya tergila-gila dengan dia. "Cukup pada batasnya saja," kataku mengingatkan diri.Kalau sudah tak ada yang dibahas sms itu "terpaksa" berhenti, kecuali dia tanya suatu hal padaku.
            Dan setelah kejadian meminta nomorku lagi-lagi Maya meluncurkan aksinya lagi , memporak-porandakan hatiku, membuatnya tak karuan. Kau tahu? Dia mengajakku makan siang berdua, ya berdua tanpa siapapun tanpa karyawan lainnya hanya kita berdua. Ini benar-benar gila mungkinkah dia suka padaku? Ah, mimpi saja aku ini, tapi mimpi saja sudah seindah ini bagaimana bila nyata. Seperti katanya kami makan siang bersama di luar kantor aku naik mobilnya.
            "Hoalah Ma, Darma. Dia saja naik mobil lah kamu, Cuma kuat naik sepeda motor bangun Ma dari mimpimu jangan sampai suka sama dia," kataku dalam hati.
            "Darma, kok diam aja dari tadi?" kata Maya mengagetkan lamunanku tentangnya.
            "Eh, Maya. Memang disuruh ngomong apa?" jawabku.
            "Ya, terserah kamu, kamu mau share apa sama aku atau tanya-tanya sama aku, kan enak kalu garing gini," kata Maya seperti biasa dengan senyum lesung pipitnya.
            "Mm Maya udah punya pacar belum?" kataku sontak mengagetkan diriku sendiri.
            "Ya Ampun kenapa keceplosan gini, aduh kepikirannya itu mulu sih, aduh Maya," kataku dalam hati. Entah bagaimana kini raut mukaku aku sendiri tak tahu harus melakukan apa.
            "Hihihi, menurut Darma gimana? Saya sudah keliatan sudah punya pacar atau belum," katanya dengan senyumnya.
            "Ya ya nggak tahu," jawabku gelagapan.
            "Hihihi kamu lucu Dar, kenapa kok tanya begitu?" dan kali ini aku benar-benar skak mat, oh Tuhan aku harus menjawab apa?           
            "Itu teman-teman suka tanya-tanya," jawabku sekenanya.
            "Oh, begitu," jawabnya masih dengan senyum pelumpuh raga itu.
            Makan bersama siang iu berjalan asyik, dia bercerita tentang hidupnya sebelum di Indonesia, tentang keluarganya dan benar saja dugaanku bahwa dia pernah menjadi seorang model salah satu majalah di Paris. Ceritanya semakin membuatku putus asa untuk mendekatinya ia seperti menegaskan bahwa kita jauh berbeda. Dan yang semakin membuatku gila adalah saat dimana Maya membawa seorang lelaki ke kantor dan kudengar dari asisten Maya bahwa itu tunangannya. Sontak saja para kaum adam di kantorku patah hati, wanita yang selama ini mereka idam-idamkan ternyata sudah mempunyai tunangan. Berarti saat kutanya satu bulan yang lalu itu, dia sudah punya pacar. Astaga, benar-benar memalukan. Kenapa dia tidak bilang saja aat itu.
            Seperti orang patah hati pada umumnya, hari ini kuhabiskan untuk melakukan hal-hal yang mungkin bisa menyibukkanku tapi nyatanya itu malah membuatku semakin terpuruk, kali ini aku harus jujur pada diriku bahwa aku jatuh cinta pada Maya. Anak bosku! Oh Tuhan harusnya dari awal aku sadar Maya tidak mungkin tercipta untukku. Mungkin seperti wanita pada umunya ia akan memilih pria yang sama mapannya dengannya.Dua bulan pertama setelah kutahu bahwa Maya telah bertunangan, merupakan bulan yang paling buruk untukku. Kini aku sengaja menjaga jarak dengan Maya. Bukan karena untuk cepat melupakan saja tapi untuk menghidari rasa maluku tempo lalu yang lancang bertanya padanya "Sudah punya pacar belum?" pada Maya.
            Maya seperti menyadari kejanggalan sikapku, esok harinya ia memanggilku untuk ke ruangannya. Aduh, aku takut ia bertanya macam-macam.
            "Permisi," kataku datar.
            "Oh Darma, silahkan  masuk," kata Maya seperti biasa masih dengan senyumyang membuat semua kaum adam terpana bila memandangnya.
            "Begini Darma, sebenarnya saya sedikit kecewa dengan yang kamu lakukan," kata Maya mengawali pembicaraan.
            Oh Tuhan! Apa dia akan bicara tentang pertanyaanku di mobil tempo lalu?
            "Ini mungkin pilihan kamu, tapi saya sebenarnya kurang setuju apalagi Papa banyak bercerita tentang keunggulan kamu di banding yang lainnya," kata Maya.
            Tunggu sebentar, apa yang sebenarnya yang Maya bicarakan? Ia tak membahas kejadian  tempo lalu. Ah, syukurlah.
            "Maaf memotong, maksudnya bagaimana ya? Saya tidak paham arah pembicaraan ini," kataku, kali ini dengan santai.
            "Ini kamu lihat sendiri," katanya seraya menyerahkan amplop coklat.
            Apa ini? Apa dia akan memecatku?
            "Mungkin itu keputusanmu tapi apa kamu sudah yakin akan meninggalkan kantor ini?" tanyanya.
            Oh, ternyata ini tanda diterimanya aku disalah satu universitas di Singapura dengan biaya beasiswa penuh dari pemerintah. Aku bahkan sudah lupa, kapan aku mengirimkan permohonan ini, tapi ini benar-benar mengejutkan.
            "Kamu  benar akan  berangkat kesana Darma?" tanya Maya lagi.
            "Saya sebenarnya berat meninggalkan  kantor ini, tapi ini salah satu mimpi saya, saya tidak punya pilihan lain," jawabku.
            "Baiklah, bila seperti itu."
            "Permisi saya ijin keluar," kataku.
           "Sebentar Darma tidak adakah hal yang ingin kamu katakan pada saya sebelum kamu pergi?" tanya Maya lagi.
            Pertanyaan? Apa maksudnya. Sejauh ini tidak ada pertanyaan yang ingin kutanyakan selain masalh perasaan dia padaku. "Darma inget Dar, dia sudah bertunangan!" kataku mengingatkan diriku lagi.
            "Tidak ada Maya, semua pekerjaan sudah beres saya lakukan," jawabku datar.
            Malamnnya aku segera mengurus semua kebutuhanku untuk berangkat ke Singapura. Untuk urusan transport semua sudah di tanggung pemerintah. Ini benar-benar berkah untukku.  Satu bulan sebelum tahun ajaran baru, aku harus segera berangkat ke Singapura. Aku terpaksa meninggalkan semuanya,meningalkan pekerjaanku, rasaku terhadap Maya. Semuanya kutinggalkan.
*****
            Kuliah S2 ku berjalan lancar, nilai 3,5 berhasil kuraih selama 3 tahun belajar disini. Terimakasih Tuhan telah kau mudahkan segalanya. Selama kuliah kufokuskan energi dan fikiranku untuk segera menyelesaikan kuliahku secepatnya. Rencanaku setelah ini bukan untuk kembali ke Indonesia. Lukaku masih terlalu basah untuk kembali "menceburkan" diri pada luka yang sama. Maya, ya dia kini mungkin sudah menikah dengan tunangannya.
            Sejujurnya, sebelum aku tahu bila Maya sudah bertunangan aku sudah menuliskan sebuah surat serta beberapa bait puisi untuknya. Tapi entah dimana surat itu sekarang, aku sudah lupa menaruhnya mungkin sudah hilang bersama asaku.
            Setelah usai kuliah aku mulai magang di salah satu kantor redaksi di Malayasia. Karena bahasa negara kami yang serumpun, membua kami lebih mudah untuk saling memahami bahasa masing-masing, walau sebenarnya aku harus memaksakan diri untuk berbicara logat mereka. Satu Tahun di Malaysia benar-benar membuatku tak ingin pulang ke Indonesia, selain faktor gaji yang lebih mencukupi juga masih soal hati.
            Sore hari di Malaysia selalu kesempatkan untuk berkunjung di salah  satu perpustakaan terbesar di kota Johor, Malaysia. Disini banyak buku yang mampu mebuatku lupa waktu  bila ku sudah berada disini.
            "Darma!" panggi seseorang di belakangku.
            Refleks aku menoleh, dan kau tahu siapa dia. Dia Papa Maya.
            "Pak Herlambang? Bagaimana anda bisa disini?" kataku kaget.
            "Haha, kebetulan saya ada urusan di Malaysia," katanya.
            "Oh iya, Darma semenjak saya dengar kamu ada beasiswa ke Singapura kamu tidak pernah menghubungi saya, apa kamu sudah  lupa dengan saya?" tanya pak Herlambang.
            "Tidak mungkin saya lupa dengan kebaikan Bapak dan Bapak, Pak Herlambang ini bos terbaik yang pernah saya temui," jawabku.
            "Darma-darma pandai benar kamu ini merayu, ngomong-ngomong sudah ada gandengan belum hahaha."
            Kali ini aku benar-benar berdegup karena Pak Herlambang, bukan karena pertanyaannya, tapi karena wanita yang ada di belakangnya. Dia wanita yang selama ini menjadi sumber dari segala hidupku, sumber inspirasiku, sumber bahagiaku, sumber sedihku, serta sumber sakit hatiku. Ya! Dia Maya, dia ada tepat di depanku sekarang.
            "Darma?" kata Maya lirih.
            "Maya, kamu sudah selesai pinjam bukunya? Ini nih karyawan terhebat Papa sudah jadi penulis besar sekarang di Malaysia," kata Pak Herlambang seraya menepuk bahuku.
            Seperti biasa Maya sellau tersenyum sebelum berkata, tapi kali ini senyumnya lebih manis, mungkin karena aku sudah jarang melihatnya.
"Bagaimana kabarmu?" katanya datar.
"Baik seperti yang kamu lihat," jawabku mencoba santai.
"Oh iya May, Papa masih ada urusan sama salah satu penerbit buku di  sini, Papa pergi dulu ya! Damar sukses terus  ya,  kapan-kapan kalau ada waktu kita bertemu lagi. Saya pergi dulu," kata Pak Herlambang.
"Aku ikut Pa," kata Maya membuntuti Papanya.
Hatiku kembali sakit, kenapa dia harus pergi tanpa bertanya lebih jauh tentangku. Ah Maya kau masih wanita nomor satu dihatiku.
Selesai meminjam buku, aku segera pulang. Ingin segera menulis seustu hal tentang apa yang baru saja kulalui hari ini. Tapi tiba-tiba seseorang merengkuhku dengan kuat.
"Damar, jangan pernah pergi," kata seseorang dibelakangku lirih tepat di telingaku, suara ini sangat kukenal sejak lima thun lalu, iya mungkin ini dia.
"Damar, berhentilah bermimipi," kataku mengingatkan diri lagi.
Tapi nyatanya rengkuhan itu semakin kuat, dan aku sudah tak tahu harus berkata apa lagi. Dia benar-benar wanita yang selama ini kupuja sejak lima tahun lalu.
"Maya, bagaiman kamu bisa.."
"Damar kamu jahat, kenapa kamu ninggalin aku," katanya berlelehan air mata.
"Maya, apa maksud kamu?" kataku mulai bingung.
"Aku sayang sama kamu Damar, kenapa kamu sejahat ini pergi disaat  aku benar-benar ingin mejadi milikmu," kata Maya masih menangis.
"Maya, kamu tenang dulu ya, kita duduk dulu kamu jelasin semuanya aku nggak paham," kataku terheran-heran dengan tngkahnya.
"Aku udah baca surat kamu," katanya kali ini dengan sedikit tenang.
"Surat apa?" tanyaku. Seingatku aku tak pernah mengirimkan surat apapun pada dia selama aku di sini.
"Surat yang kau tinggal di mobilku saat kau kuajak makan siang bersama, apa kamu lupa?" tanya Maya seraya mengeluarkan secarik surat.
Astaga, itu suratku yang hilang! Bagaiman itu bisa di tangan Maya.
"Kamu kira perasaanku mainan Mar, kenapa kamu pernah serius sama perasaanmu kenapa kamu malah diemin aku, tterus kamu pergi jauh dari aku, kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu suka sama aku Mar, kenapa?" kali ini tangis Maya tak tertahankan.
"Karena.."
"Karena kamu sudah bertuanangan Maya, kamu sudah akan menikah Maya, bagaimana bisa?" jawabku apa adanya.
"Kamu tahu Dar, dia itu temanku dia sengaja untuk kubuat untuk menyatakan keseriusan kamu sama aku, tapi nyatanya kamu malah pergi jauh meninggalkan aku dengan ketidak pastian." kata Maya menjelaskan.
"Maya.. maakan aku," kataku seraya memeluknya erat. Erat sekali kali ini aku benar-benar tak ingin melepasnya.
Kali ini jantungku dibuat berdegup lebih kencang dari sebelumnya oleh wanita yang sama . Untuk cinta seharusnya kita punya sedikit kekuatan untuk mengatakannya, atau dia akan pergi dan tahu kapan kita akan menemukannya lagi. Ini mungkin sudah takdirku, Tuhan masih mengijinkanku bertemu dengan wanita yang diam-diam sudah kucintai sejak pertama berjumpa. Dia bukan lagi mimpi, dia kini nyata. Dia bukan lagi cinta yang kupendam diam-diam, dia adalah cinta untuk masa depanku. Rindu yang dulu pernah kupendam kini kugali kembali. Seperti cinta yang baru lahir tak ada kata yang menjelaskan perasaan kami selain satu kata sederhana ini "Bahagia"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar