Selasa, 05 Agustus 2014

Rindu yang Tak Bertuan



Hari ini untuk yang kesekian kalinya Keysya memutar lagu kesukaannya cinta kan membawamu kembali, lagu milik penyanyi Reza. Alasannya cukup sederhana mengapa ia sengaja memutar lagu itu berulang kali, hanya karena lagunya mewakili semua perasaanya saat ini. Setiap mendengar lagu itu, ingatannya selalu  melayang pada tiga tahun lalu. Saat pertama kali ia bertemu dengan pria itu, pria yang membuatnya seperti ini. Yang membuat ia hampir kehilangan hidupnya hanya karena ia tahu pria yang dicintainya itu kini sudah pergi tanpa jejak setapakpun meninggalkannya .
Keysya masih ingat jelas bagaimana pertemuan dengan pria itu, saat mereka tak sengaja bekerja satu tim dalam lomba cerdas cermat tingkat SMAtepat tiga tahun lalu, saat bulan Maret masihawal-awalnya berjalan.  Hari itu ia tak menyangka bila pria yang pernah ia anggap aneh karena tingkahnya yang sulit di tebak  itu kini menjadi orang yang paling mendominasi dalam hidupnya, ya untuk pertama kalinya Keysya benar-benar tak bisa melupakan seorang pria yang telah dua tahun pergi dari kehidupannya.Rayhan namanya, ia tinggi kurus, bulu matanya lentik, bola matanya bundar seperti kelereng, , bibirnya tipis layaknya bibir-bibir wanita di layar kaca hollywood bila dilihat sekilas ia memang nampak seperti seorang wanita tapi bagaimanapun ia tetap yang paling Keysya cintai.Lagu telah selesai, namun bayang pria itu belumhilang ia masih terus mengingat bagaimana ia  pernah bahagia bersama pria yang ia cintai selama satu tahun ini, tanpa ia berani mengucapkan pada pria itu hanya dengan alasan "Aku ini wanita". Seperti biasanya mata Key, panggilan akrab Keysya selalu sembab oleh air mata setiap wajah pria itu terbayang di pelupuk mata .
"Masih pria itu?" tebak Mely, sahabat Key.
"Siapa?" tanya Key sesenggukan.
"Key, udah deh gue ini sahabat lo. Udah dua tahun lalu Key dianggak ada kabarnya, gimana bisa lo masih bertahan dengan ketidak pastian yang membingungkan ini?"
Key hanya diam, mencoba meraih tisuuntuk membersihkan air matanya,  percuma ia membalas nasihat sahabatnya, itu hanya akan membuat hatinya semakin perih.
Mely hanya menatap kesal sahabatnya yang tak menanggapi omongannya, nyatanya tangisan Key tidak redam namun bertambah semakin deras bak hujan.
Mely mungkin benar, mengapa aku masih bertahan dengan ketidakpastian ini ketika aku tahu dia takkan pernah kembali padaku atau mungkin tak pernah menganggapku ada, batin Key. Matanya kembali bercucuran air mata kali ini lebih deras lagi.
Malam ini hujan turun lagi unuk kesekian kalinya, maklum musim hujan tahun ini memang yang terparah. Key kembali membenamkan wajahnya di balik sujud panjangnya, ia tak tahu  harus berdoa apa lagi, karena setiap sujudnya nama Ray selalu ia rapal dalam doa yangia tujukan pada Yang Maha Esa,  berharap setitik keajaiban datang agar ia segera kembali berjumpa dengan yang ia cinta. Nyatanya doa belum dikabulkan. "menunggu waktu yang tepat mungkin" hibur Key pada diri sendiri disaat ia menyadari sudah dua tahun lebih ia panjatkan doa itu nyatanya belum kesampaian sampai kini. Selesai dari sholatnya, Key baru menyadari jika hujan begitu deras diluar sana. Apa hujan sengaja menyindirku? Batin Key kesal. Key teringat saat Hujan tahun lalu saat Ray, sapaan akrab Rayhan, masih ada disampingnya, setidaknya dulu mereka masih saling memberi kabar. Tidak seperti kini. Saat itu hujan tak begitu deras seperti malam ini, Ray dengan pesannya datang menghangatkan Key.  Saat itu Key senang sekali, bagaimana tidak Ray tak henti-hentinya membuat Key tertawa dengan guyonan-guyonan yang ia kirim pada Key, walau sebenarnya ia sudah berungkali mendengar cerita-cerita itu, tapi entah mengapa rasanya berbeda bila Ray yang menceritakannya.
"Kamu lagi  dimana dek sekarang?" tanya Ray disela-sela smsnya.
"Lagi dirumah Mas, ini lagi takut banget," jawab Key cepat.
"Kenapa dek kok takut? Kan ada Mas di sini."
Kali ini Key tak bisa berhenti tersenyum melihat pesan yang baru ia terima. Berulang kali  ia pandang handphonenya berharap ini bukan mimpi. Kamu memang selalu di sini mas,  telunjuknya ia tunjukkan ke hatinya.
"Petirnya Mas, bikin takut."
"Oalah kamu ini kayak anak keciln aja, ya udah Dek jangan takut ya, Kan udah Mas temeni."
Secepat kilat Key segera melihat pesan yang baru saja muncul di Hpnya, dan kali ini tanggapanya bukan lagi tersenyum bahagia, tapi loncat-loncat bak anak kecil yang mendapat balon dari ibunya.
"Iya Mas, makasih ya udah mau nemenin," jawab Key cepat.
"Iya Adek kecil," goda Ray.
"Kok Adek kecil?" tanya Key masih diikuti senyum semu merah di dua pipinya.
Key benar-benar bahagia dipanggil  seperti itu oleh Ray,ia rasa itu panggilan sayang untuknya, khayalannya semakin terbang tinggi, ia yakin Ray juga memendam rasa yang saa padanya.
Lama Key menunggu balasan dari Ray satu menit, lima menit, sepuluh menit, bahkan setelah setngah jam kemudian tak ada balasan di handphonenya. Key berulang kali memandang handphonenya. Masih tak ada jawaban. Ah, batin Key kesal. Percakapan mereka selalu berakhir seperti ini tiada kejelasan. Ray selalu dengan seenaknya pergi tanpa pamit, begitu tak berhaganya akau di matamu Mas, kata Key sedih.
"Kok nggak dibales, kamu udah tidur Mas?" ketik Key di handphonenya, tapi ia tak berani mengirimnya. Key hanya ingin bersikap sewajarnya saja di depan Ray, tanpa mau berlebihan. Ia takut bila Ray mengetahui perasaanya, walau sebenarnya hal itu yang paling Key harapkan saat ini. Ia hanya ingin menyamakan tindakannya ke Ray dengan teman-teman yang lainnya, walau tak bisa.
Keesokan harinya Key tak berani bertanya mengapa kemarin Ray tak membalas pesannya, saat mereka tak sengaja bertemu di perpustakaan sekolahnya. Key hanya diam melihat Ray tersenyumke arahnya, lagi-lagi Key tak bisa menahan rasa kagumnya pada senyum Ray yang menawan. Tapi nyatanya dugaan Key salah, Ray tak tersenyum ke arahnya ia tersenyum ke Anna teman satu kelas Ray.  Apa aku tak nampak jelas di hadapanmu, batin Key menahan kekecewaannya. Key dan Ray memang tak satu kelas karena Key berada dikelas X sedangkan Ray kelas XI.
Disekolahnya Ray terkenal sebagai anak pendiam tak heran bila ia hanya bicara pada orang yang benar-benar dekat dengannya, sedangkan Key hanyalah "teman" yang baru ia kenal beberapa bulan yang lalu karena perlombaan itu. Tak hanya itu Ray terkenal sebagai anak pandai rangkingnya selalu bertahan di nomer satu dari kelas X hingga kelas XII, namun bukan ini yang membuat Key menyukai Ray. Hanya saja karena setiap di dekat Ray jantungnya tak pernah bisa berhenti berdebar. Hanya Ray yang mampu membuat ia  gelagapan setiap bertatap muka dengan Ray, walau kejadian itu sangat jarang tapi Key masih ingat bagaimana wajah Ray nampak begitu jelas di depannya, setiap lekukan wajahnya ia bisa hafal walau sekali memandang.
            Lamunan Key buyar, ketika ia tahu handphonenya berbunyi, Key tak berani berharap bahwa yang menelponnya itu Ray ia sudah berungkali berharap tapi hasilnya hanya membuat luka di hati semakin melebar, ia jelas sadar bahwa tak mungkin bila itu Ray, ternyata sahabatnya Mely.
            "Key, jalan yuk gue males nih di rumah sendiri," kata Mely singkat.
Hujan sudah reda syukurlah, batin Key. Ia menengok jam masih jam setengah delpan, belum terlalu malam untuk pergi keluar sebentar, pikirnya.
            "Oke deh loe jemput gue ya, gue males manggil taksi," jawab Key singkat.
            Segera Key melipat mukenanya segera bersiap. Cardigan  merah jambu yang ia beli tempo lalu ia pakai untuk menutupi kaos pendeknya. Celana pendek yang ia pakai tadi segera ia ganti dengan celana jeans berwarna sama dengan cardigannya. Rambutnya  sengaja ia buat tergerai memanjang untuk sekedar melindunginya dari dinginnya malam.
            Taksi sudah datang.
            "Key lo belum siap?" teriak Mely dari Taxi seraya mencodongkan sebagian badannya keluar jendela mobil.
            "Mel, udah malem! Ntar Bu kos marah-marah lagi gara-gara tingkahmu," Key tak heran dengan tingkah sahabatnya yang selalu membuat keributan dimanapun ia berada.Tapi bagaimanapun Mely adalah segalanya untuk Key, Mely adalah kakak,sahabat, bahkan ibu yang baik bagi Key. Mely tak tergantikan sama seperti Rayhan, batin Key.
            Malam ini ternyata Mely hanya mengajak key jalan-jalan ke toko buku sebelah Alun-alun kota.
            "Key Key sini deh!" seru Mely.
            "Kenapa sih?" tanya Key diikuti telunjuk tangannya menutupi bibir mencoba mempertingatkan Mely.
            "Ups sory, sini deh lihat ini kan buku terbarunya Dwitasari," jawab mely kali ini suaranya lebih ia rendahkan.
            "Dwitasari?" tanya Key bingung, ia tak pernah mendengar nama itu.
            "Tunggu deh Key, lo nggak tahu siapa Dwitasari?" tanya Mely keheranan.
            "Enggak," jawab Key dengan gelengan kepala.
            "Hah ya ampun! Lo itu hidup terisolasi apa gimana sih Key, ini itu Dwitasari! Penulis TOP yang kata-katanyaitu selalu ngena banget, gue aja udah follow twitter dia dan lo tahu setiap tweetnya itu ngejleb banget," kata Mely seraya mengepalkan tangannya lalu ia daratnkan ke bagian samping tubuhnya.
            "Nggak usah Alay deh!" kata Key sambil memutar bola matanya.
            "Ih, lo nggak percaya ya, udah deh terserah lo deh kalau lo belum pernah denger nama Dwitasari yang jelas-jelas seluruh remaja Indonesia itu udah kenal dia, sekarang lo coba  beli buku dia deh, ntar gue yakin lo bakal narik omongan lo," kata Mely berapi-api.
            "Ogah ah, udah deh kalau lo mau beli-beli aja gue mau cepet pulang," kata Key meninggalkan Mely diikuti muka kesal dari wajah Mely.
            Pulangnya di Taxi, Mely tak henti-hentinya memuji buku yang baru ia beli.
            "Pokok ya, lo wajib baca ini Key, Dwitasari itu kayak cenayang, apa yang ia tulis pasti pas banget dengan apa yang kita rasa," kata Mely seraya membolak-balik buku barunya, Jatuh cinta diam-diam.
            "Apa lagi ya, judulnya ini kan  nyindir lo banget." Lanjut Mely. Keysya hanya mendengus.
            "Oh iya Key, hari ini gue nginep di kosan lo ya, Mama Papa lagi nggak ada di rumah cuma ada Abang gue, boleh kan ya?" kata Mely lagi.
            "Iya terserah lo deh," jawab Key.
            Pujian Mely terhadap penulis Dwitasari berlanjut, dan Key hanya mangut-mangut mendengar celotehan sahabatnya.
            "Mel, stop deh ya kita sekarang udah sampai, dan semenjak pulang dari toko buku sampai kita sampai di depan rumah topik bahasan lo cuma Dwitasari, gue risih dengernya," tegur Key.
            "Oh ya masak," jawab Mely melongo.
            "Hassh whatever," jawab Key seraya membuka pintu kamarnya.
            "Eh eh Keysya Amorta ya?" tanya teman kamar sebelah Key nyelonong ikut masuk ke kamar Key.
            "Iya kamu Sisy kan?" jawab Key.
            "Ini, tadi waktu lo keluar ada Pak pos kesini, ngirimin surat dan kayaknya yang namanya Keysya Amorta disini Cuma lo," jawab Sisy seraya menyerahkan amplop putih polos bertuliskan alamat kosannya. Dari siapa? Kalau itu dari orang tuanya nggak mungkin mereka kan bisa langsung nelfon atau sms aku? tanya Key.
            "Oh iya udah makasih ya Si,"  kata Key di jawab senyuman dari Sisy.
            "Dari siapa ya Mel?" tanya Key.
            "Ya mana gue tahu, coba sini gue buka deh," kata Mely seraya mencoba merebut surat yang ada di tangan Key di ikuti jitakan dari Key.
            "Apa-apaan sih lo ini surat gue, gue dulu dongyang buka," kata Key seraya membuka perekat amplop.
            "Untuk Adek Kecil...."
            Deg, batin Key.
            "Dari siapa Key?" tanya Mely tak sabar.
            "Emmm Mely lo keluar dulu ya sebentar aja," jawab Key sambil mendorong tubuh Mely keluar kamarnya.
            "Loh loh loh gue kan mau nginep sini Key!"  kata Mely.
            "Iya ya ntar lo nginep sini sekarang keluar dulu deh ya," kata Key seraya mengunci pintu kamarnya.


            Untuk  Adek Kecil.
            Bagaimana kabarmu sekarang? Kuharap kau tak sepenakut dulu saat hujan datang bersama pentiryang menghatam pendengaranmu hingga aku harus menemanimu. Lama tak memandang wajahmu semenjak kita sudah berbeda sekolah, lama juga kita tak saling berhubungan seperti dulu seperti saat pertama aku mengenalmu. Aku tak mungkin lupa bagaimana saat itu Tuhan menemukan kita dalam ketidak sengajaan yang mnyenangkan. Tapi kurasa semua di dunia ini tak ada yang tak sengaja dengan kata lain, pertemuan kita adalah takdir. Aku tahu bagaimana setiap statusmu di social media yang kau tulis itu untukku,aku juga tahu bagaimana kecewanya kamu saat aku tak pernah memberi kabar kepadamu. Aku pun juga kecewa pada diriku sendiri saat aku tahu aku sudah menyakitihati anak gadis orang, lalu bila sudah seperti ini bisakah aku menjagamu seperti pangeran dalam mimpi-mimpimu yang pernah kau tulis di blog pribadimu? Maafkan aku ya! Ini mungkin terlalu klimaks tapi benar AKU MERINDUKANMU, tunggu aku hingga kembali ya aku pasti datang :')
                                                                                                            Rayhan


Surat selesai Key baca dan seperti biasanya ia menangis seperti saat ia mendengar lagu favouritnya. Ia rengkuh erat surat yag baru ia baca, ia tak percaya apa ia bermimpi. Ia menangis keras keras sekali hingga Mely memaksa masuk.
"Loh Key ada apa lo kenapa nangis? cerita sama gue Key," kata Key seraya memeluk wanita di depannya yang telah ia kenal 4 tahun lalu.
"Ini Mel ini,"kata Key tak bisa melanjutkan apa yang ia katakan.
Mely membaca surat yang sejak tadi Key genggam. Mely hanya mendengus.
"Jadi lo nangis karena surat ini? Key dengerin gue! Rayhan..."
"Rayhan nggak mungkin lakuin ini," lanjut Mely.
"Nggak gue yakin ini pasti Rayhan Mel pasti! Gue yakin," kata Key meyakinkan sahabatnya.
"Key lo sadar nggak sih, kata lo Ray setiap ketemu lo dia dingin banget mana mungkin sih dia ngirim ini, nggak mungkin udah ya ini mungkin cuma akal-akalan orang kurang kerjaan udah ya dari pada lo nangis lebih baik  buang aja," kata Mely.
"Lo kenapa sih Mel, apa alasan lo ngomong kayak gitu, gue yakin ini Ray dan nggak akan ada orang yang bisa gubah keyakinan gue! Gue yakin Ray di luar sana juga lagi kangen sama gue, gue yakin dia bakal kembali buat gue! Gue bakal nunggu dia sampai dia kembali," teriak Key.
"Teserah lo deh ya! Ray itu terlalu abu-abu buat lo, lo harus cari cowok baru," kata Mely.
"Lo ngomong gitu karena lo belum pernah nemuin cinta sejati kayak gue," bela Key.
"Cinta sejati? Lo itu terlalu dibutain sama cinta sejati imajinasi lo sendiri, Ray aja nggak pernah respect sama lo!" kata Mely.
"Mel! Apa sih maksud lo ngomong gitu, lo nyadar nggak sih omongan lo iyu nyakitin hati," seru Key menahan tangis yang memang sudah tumpah sejak dari awal ia membaca surat.
"Gue itu Cuma mau nyadarin lo Key! Rayhan yang selama ini lo sering mimpiin itu cuma ada di mimpi lo, gue sebagai sahabat cuma pengen lo bangun dari tidur panjang lo ngerti," kata Mely seraya keluar meninggalkan Key.
Malam itu Mely dan Key bertengkar, hanya karena sebuah surat,persahabatan empat tahun lalu retak.
Dan setiap harinya setiap mereka bersua tak lagi ada kata "hai" atau gandeng tangan seperti dulu. Keysya masih tersinggung dengan ucapan Mely, sedangkan Mely masih gengsi harus menghampiri Key semenjak kejadian semalam.
            Satu bulan, dua bulan mereka masih saling tak mau menyapa. Mereka masih saling gengsi untuk mengucap maaf. Tapi pada akhirnya Mely yang paling tak tahan dengan pertengkaran ini. Mely mencoba meminta maaf dengan mengundang Key ke rumahnya.
            Malam harinya setelah Mely menelfonnya, Key segera menuju ke rumah Mely. Pertengkaran diantara teman lama memang sangat buruk, batin Key.
            Taxi sudah mengantar Key ke depan rumah Mely, pintu rumah Mely di ketuk tak ada jawaban dari dalam. Sekali lagi, kali ini pintu terbuka.
            "Eh Key, nyari Mely ya?" tanya Kak Alvin, abang Mely.
            "Iya Bang, Mely nya ada kan?" kata Mely.
            "Oh iya Bang,ini  flashdisk yang bulan lalu aku pinjem," lanjut Key seraya mengobok-obok tas merah jambunya. Disaat yang bersamaan foto seorang pria berpakaian lengan panjang dengan motif garis vertikal hijau, tak sengaja jatuh dari dalam tas Keysya. Keduanya terkaget.
            "Loh Key? Lo nyimpen fotonya Ray?" tanya Bang Alvin heran.
            "Enggg... emang Abang kenal sama Rraay?" tanya Key balik.
            "Ya kenal lah dia kan.."
            "Woi Bang!" seru Mely menepuk pundak Abangnnya. Yang di tepuk menoleh, marah.
            "Lo apa-apaan sih Mel, pakai acara ngagetin segala!" kata Bang Alvin.
            "Siapa juga sih Bang yang ngagetin? Abang  ini juga Keysya dateng nggak bilang-bilang sama aku, udah sana pergi!"  jawab Mely ketus.
            Keysya hanya tersenyum melihat tingkah dua orang di depannya.
            "Eh Key kita ngomong di kamar gue aja ya?" saran Mely sedikit canggung.
            "Oke,"jawab Key.
            Lalu mereka masuk ke sebuah ruangan penuh dengan ornamen hello kitty, maklum cita-cita Mely sedari kecil adalah mengoleksi seluruh barang yang berkenaan dengan hello kitty dan kini koleksinya sudah hampir memnuhi seluruh barang yang ia miliki.
            "Emmm`gue minta ``maaf ya Key," kata Mely medahului pembicaraan.
            "Gue juga ya Mel, gue terlalu egois nggak pernah denger apa yang lo omongin ke gue."
            "Tapi Key, sebelum lo maafin gue, gue harap lo mau denger gue sekali ini aja lagi, setelah itu terserah lo mau marah sama gue pun nggak papa," kata Mely, kepalanya menunduk.
            "Ini soal Rayhan," lanjut Mely.
            "Kenapa?"
            "Sebenernya gue ada hubungan sama Ray, gue udah kenal dia jauh sebelum lo kenal sama dia," kata Mely, kali ini matanya sudah basah dengan air mata.
            Key hanya menahan nafas berusaha terus mendengar apa yang akan di katakan Mely selanjutnya, matanya sudah berkaca-kaca.
            "Jadi ini sebabnya lo nggak pernah setuju hubungan gue dengan Ray?" kata Key berusaha menutupi kegeramannya, matanya menatap lurus ke depan berusaha mensiasati air matanya agar tak tumpah. Mely hanya diam.
            "Mel jawab gue! Jadi karena ini! Karena lo dan Ray udah pacaran lebih dulu sebelum gue suka sama dia, iya Mel? Lo jawab gue! " kata Key lagi.
            "Lo jahat Mel," seru Key lirih.
            "Bukan Key, bukan dia bukan pacar gue," kata Mely masih sembab air mata.
            Key menoleh, berusaha menelaah satu persatu yang mely katakan,"Terus siapa lo? Eh Mel? Lo ngerjain gue ya? Hahaha ini nggak lucu banget Mel," jawab key kali ini dengan gelak tawa. Namun, Mely masih diam.
            "Mel udah lah stop kali bercandanya, tapi tunggu deh lo sampai nangis kayak gini acting lo keren deh!" kata Mely seraya membasuh air matanya, tertawa akan kegilaan sahabatnya barusan.
            "Key lo yang harusnya stop, gimana lo bisa ketawa di saat gue akan ngatain hal yang nyakitin hati lo!" tegur Mely.
            "Apa lagi sih Mel, udah deh gue akuin acting lo emang keren, udah ya berhenti."
            "Key dengerin gue baik-baik ya kali ini gue nggak bercanda! "Gue adalah yang ngirim surat tempo lalu waktu malem kita bertengkar, gue yang nulis itu bukan Rayhan seperti yang lo bayangin!" kata Mely menghentikan gelak tawa sahabatnya.
            ""Hahaha, lo yang nulis? Nggak mungkin lah gimana bisa lo tahu panggilan gue Adek kecil, dan gimana lo bisa tahu soal hujan itu?" respon Key berbalik dengan yang di perkirakan Mely.
            "Karena Ray adalah saudara gue!" jelas Mely.
"Saudara lo? Loh kok lo nggak pernah ngomong sih, berarti lo tahu dong sekarang dia dimana? Beritahu gue dong please," kata Key memohon.
            "Key stop! Dengerin gue!" kata Mely.
            "Kenapa gue bisa tahu panggilan Adek kecil yang lo kira adalah panggilan kesayangan itu karena gue pernah mergokin kalian lagi smsan, dia sama sekali nggak pernah sedikitpun ada rasa sama lo Key!" kata Mely.
            Key hanya diam, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia harus percaya atau pura-pura tak mendengar apa yang barusan sahabatnya katakan.
            "Gue udah pernah tanya lagsung ke dia dan jawaban dia nihil, perhatian, panggilan sayang itu nggak satu-satunya buat lo Key!"
            Lalu Mely menjelaskan semuanya pada Key, bagaimana marahnya ia ketika sahabatnya begitu saja di permainkan hatinya oleh Rayhan. Ketika Ray tanya bagaimana perasaan Ray atas Key, dan jawaban Ray "Kita Cuma orang yang di pertemukan dalam sebuah ajang lomba nggak lebih!" apalagi jawaban Ray saat ditanya tentang panggilan Adek Kecil yang sering key bangga-banggakan.
            "Karena umur dia di bawah gue, apa gue salah manggil dia Adek kecil, orang-orang yang di bawah umur gue juga gue panggil gitu kok! Dia aja yang salah ngartiin!"
            Penjelasan Mely yang terakhir benar-benar membuka lebar luka yang berusaha ia sembuhkan selama ini. Kecewa, hanya itu yang menjelaskan perasaan Key.
            "Itu kenapa gue nggak pernahsetuju dengan hubungan lo sama Ray! Alasan gue nulis surat itu juga untuk ngehibur lo, Gue nyangka lo suka sama Ray Cuma sementara ini saja setelah itu lo akan cari cowok lain seperti dulu-dulu, gue  juga lega saat Ray akhirnya lulus dan pergi ke luar negeri untuk nglajutin kuliahnya dan nggak pernah ngasih kabar ke lo lagi, tapi nyatanya gue salah, lo masih bertahan dengan ketidak pastian yang Ray berikan."
            "Gue sedih sebenarnya waktu bilang denger Ray nggak pernah suka sama lo, gue nggak tega ngomong ke lo langsung, di lain sisi Ray adalah saudara gue yang mungkin lo nggak tahu karena emang sengaja guue sembunyiin dari lo," lanjut Mely.
            "Mel cukup!" kali ini ia tak bisa melanjutkan lagi apa yang ia dengarkan dari Mely.
            "Gue harus beri tahu ini Key supaya lo sadar, dia bukan pangeran yang nyium lo dan bangunin lo dari tidur panjang lo! Sama sekali bukan! Lo harus sadar Key!" kata Mely.
            "Gue nggak bisa percaya ini Mel," kata Key seraya memeluk sahabatnya.
            "Lupain dia ya Key, mungkin butuh waktu lama tapi gue mohon lupain dia gue udah capek lihat mata lo yang sembab setiap kali kita ketemu," kata Mely, kali ini pelukannya lebih erat.
            "Iya Mel, gue tau gue salah."
            "Nggak lo nggak salah dia yang salah."
           
Ketika kita mencintai seseorang mungkin tak ada kata yang mampu menjelaskan selain kata ini: Bahagia. Tapi ada kalanya rasa cinta juga melahirkan banyak kata selain "bahagia" ada kalanya tangis menemani lalu kecewa menyelimuti rasa cinta. Ketidak pastian adalah salah satu penghalang rasa bahagia itu sendiri. Kepastian harus di cari bukan di biarkan datang sendiri lalu kita harus menunggu terlalu lama lalu mengabaikan yang menawarkan kebahagiaan baru  hanya untuk menunggu kepastian itu datang. Siap jatuh cinta berrarti secara tidak langsung harus menyiapkan diri untuk nantinya sakit patah hati.Kecewa mungkin ketika kita tahu pria yang setiap hembusan nafas kita sebut dalam doa kita ternyata hanya menganggap kita tak lebih dari seorang yang lewat saja di hidupnya. Tapi mungkin kita terlalu egois bila terus mempertahankan perasaan ini lalu mengabaikan yang jelas-jelas datang membawa kebahagiaan yang kita impikan. Benar bila cinta memang membutakan setiap mata hati orang, mentulikan setiap yang orang nasihatkan padanya. Terlalu absurd ketika kita melakukan semua hal atas nama cinta lalu kita lupa bagaima Tuhan perlu di atas namakan untuk semua hal yang kita lakukan. Perhatikan baik-baik kata-kata ini "Bila suatu hari kita tak di persatukan dengan orang yang diam-diam kita sebut namanya dalam doa kita, mungkin kita akan di persatukan dengan orang yang diam-diam menyebut nama kita dalam doanya." Percayalah tiada cinta yang lebih abadi daripada cinta-Nya. Terlalu naig sebenarnya mengucapkan ini,  namun sesungguhnya ada saat dimana kamu harus bangkit berhenti dari ketidakpastian yang membuatmu terpuruk untuk mencari kepastian yang membawa kebahagiaan, walau terkadang kenyataan buruk tapi yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk setiap hambanya, hanya perlu meyakini bila jodoh pati bertemu.
            Keysya menutup diary bercorak merah jambunya, ia berusaha menahan sesak di dadanya yang sudah mulai menjalar ke anggota tubuh yang lain, Key sadar kisah cintanya kali ini tak berkhir happyending seperti cerita-cerita negeri dongeng yang selalu ia impikan setiap malam, bukan sama sekali bukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar