Hari ini untuk
yang kesekian kalinya Keysya memutar lagu kesukaannya cinta kan membawamu
kembali, lagu milik penyanyi Reza. Alasannya cukup sederhana mengapa ia sengaja
memutar lagu itu berulang kali, hanya karena lagunya mewakili semua perasaanya
saat ini. Setiap mendengar lagu itu, ingatannya selalu melayang pada tiga tahun lalu. Saat pertama
kali ia bertemu dengan pria itu, pria yang membuatnya seperti ini. Yang membuat
ia hampir kehilangan hidupnya hanya karena ia tahu pria yang dicintainya itu
kini sudah pergi tanpa jejak setapakpun meninggalkannya .
Keysya masih ingat jelas bagaimana pertemuan dengan pria itu, saat mereka tak sengaja bekerja satu tim dalam lomba cerdas cermat tingkat SMAtepat tiga tahun lalu, saat bulan Maret masihawal-awalnya berjalan. Hari itu ia tak menyangka bila pria yang pernah ia anggap aneh karena tingkahnya yang sulit di tebak itu kini menjadi orang yang paling mendominasi dalam hidupnya, ya untuk pertama kalinya Keysya benar-benar tak bisa melupakan seorang pria yang telah dua tahun pergi dari kehidupannya.Rayhan namanya, ia tinggi kurus, bulu matanya lentik, bola matanya bundar seperti kelereng, , bibirnya tipis layaknya bibir-bibir wanita di layar kaca hollywood bila dilihat sekilas ia memang nampak seperti seorang wanita tapi bagaimanapun ia tetap yang paling Keysya cintai.Lagu telah selesai, namun bayang pria itu belumhilang ia masih terus mengingat bagaimana ia pernah bahagia bersama pria yang ia cintai selama satu tahun ini, tanpa ia berani mengucapkan pada pria itu hanya dengan alasan "Aku ini wanita". Seperti biasanya mata Key, panggilan akrab Keysya selalu sembab oleh air mata setiap wajah pria itu terbayang di pelupuk mata .
Keysya masih ingat jelas bagaimana pertemuan dengan pria itu, saat mereka tak sengaja bekerja satu tim dalam lomba cerdas cermat tingkat SMAtepat tiga tahun lalu, saat bulan Maret masihawal-awalnya berjalan. Hari itu ia tak menyangka bila pria yang pernah ia anggap aneh karena tingkahnya yang sulit di tebak itu kini menjadi orang yang paling mendominasi dalam hidupnya, ya untuk pertama kalinya Keysya benar-benar tak bisa melupakan seorang pria yang telah dua tahun pergi dari kehidupannya.Rayhan namanya, ia tinggi kurus, bulu matanya lentik, bola matanya bundar seperti kelereng, , bibirnya tipis layaknya bibir-bibir wanita di layar kaca hollywood bila dilihat sekilas ia memang nampak seperti seorang wanita tapi bagaimanapun ia tetap yang paling Keysya cintai.Lagu telah selesai, namun bayang pria itu belumhilang ia masih terus mengingat bagaimana ia pernah bahagia bersama pria yang ia cintai selama satu tahun ini, tanpa ia berani mengucapkan pada pria itu hanya dengan alasan "Aku ini wanita". Seperti biasanya mata Key, panggilan akrab Keysya selalu sembab oleh air mata setiap wajah pria itu terbayang di pelupuk mata .
"Masih
pria itu?" tebak Mely, sahabat Key.
"Siapa?"
tanya Key sesenggukan.
"Key, udah
deh gue ini sahabat lo. Udah dua tahun lalu Key dianggak ada kabarnya, gimana
bisa lo masih bertahan dengan ketidak pastian yang membingungkan ini?"
Key hanya diam,
mencoba meraih tisuuntuk membersihkan air matanya, percuma ia membalas nasihat sahabatnya, itu
hanya akan membuat hatinya semakin perih.
Mely hanya
menatap kesal sahabatnya yang tak menanggapi omongannya, nyatanya tangisan Key
tidak redam namun bertambah semakin deras bak hujan.
Mely mungkin
benar, mengapa aku masih bertahan dengan ketidakpastian ini ketika aku tahu dia
takkan pernah kembali padaku atau mungkin tak pernah menganggapku ada, batin
Key. Matanya kembali bercucuran air mata kali ini lebih deras lagi.
Malam ini hujan
turun lagi unuk kesekian kalinya, maklum musim hujan tahun ini memang yang
terparah. Key kembali membenamkan wajahnya di balik sujud panjangnya, ia tak
tahu harus berdoa apa lagi, karena setiap
sujudnya nama Ray selalu ia rapal dalam doa yangia tujukan pada Yang Maha Esa, berharap setitik keajaiban datang agar ia
segera kembali berjumpa dengan yang ia cinta. Nyatanya doa belum dikabulkan.
"menunggu waktu yang tepat mungkin" hibur Key pada diri sendiri
disaat ia menyadari sudah dua tahun lebih ia panjatkan doa itu nyatanya belum
kesampaian sampai kini. Selesai dari sholatnya, Key baru menyadari jika hujan
begitu deras diluar sana. Apa hujan sengaja menyindirku? Batin Key kesal. Key
teringat saat Hujan tahun lalu saat Ray, sapaan akrab Rayhan, masih ada
disampingnya, setidaknya dulu mereka masih saling memberi kabar. Tidak seperti
kini. Saat itu hujan tak begitu deras seperti malam ini, Ray dengan pesannya
datang menghangatkan Key. Saat itu Key
senang sekali, bagaimana tidak Ray tak henti-hentinya membuat Key tertawa
dengan guyonan-guyonan yang ia kirim pada Key, walau sebenarnya ia sudah
berungkali mendengar cerita-cerita itu, tapi entah mengapa rasanya berbeda bila
Ray yang menceritakannya.
"Kamu
lagi dimana dek sekarang?" tanya
Ray disela-sela smsnya.
"Lagi
dirumah Mas, ini lagi takut banget," jawab Key cepat.
"Kenapa
dek kok takut? Kan ada Mas di sini."
Kali ini Key
tak bisa berhenti tersenyum melihat pesan yang baru ia terima. Berulang
kali ia pandang handphonenya
berharap ini bukan mimpi. Kamu memang selalu di sini mas, telunjuknya ia tunjukkan ke hatinya.
"Petirnya Mas,
bikin takut."
"Oalah
kamu ini kayak anak keciln aja, ya udah Dek jangan takut ya, Kan udah Mas
temeni."
Secepat kilat
Key segera melihat pesan yang baru saja muncul di Hpnya, dan kali ini
tanggapanya bukan lagi tersenyum bahagia, tapi loncat-loncat bak anak kecil
yang mendapat balon dari ibunya.
"Iya Mas,
makasih ya udah mau nemenin," jawab Key cepat.
"Iya Adek
kecil," goda Ray.
"Kok Adek
kecil?" tanya Key masih diikuti senyum semu merah di dua pipinya.
Key benar-benar
bahagia dipanggil seperti itu oleh
Ray,ia rasa itu panggilan sayang untuknya, khayalannya semakin terbang tinggi,
ia yakin Ray juga memendam rasa yang saa padanya.
Lama Key
menunggu balasan dari Ray satu menit, lima menit, sepuluh menit, bahkan setelah
setngah jam kemudian tak ada balasan di handphonenya. Key berulang kali
memandang handphonenya. Masih tak ada jawaban. Ah, batin Key kesal.
Percakapan mereka selalu berakhir seperti ini tiada kejelasan. Ray selalu
dengan seenaknya pergi tanpa pamit, begitu tak berhaganya akau di matamu Mas,
kata Key sedih.
"Kok nggak
dibales, kamu udah tidur Mas?" ketik Key di handphonenya, tapi ia
tak berani mengirimnya. Key hanya ingin bersikap sewajarnya saja di depan Ray,
tanpa mau berlebihan. Ia takut bila Ray mengetahui perasaanya, walau sebenarnya
hal itu yang paling Key harapkan saat ini. Ia hanya ingin menyamakan
tindakannya ke Ray dengan teman-teman yang lainnya, walau tak bisa.
Keesokan
harinya Key tak berani bertanya mengapa kemarin Ray tak membalas pesannya, saat
mereka tak sengaja bertemu di perpustakaan sekolahnya. Key hanya diam melihat
Ray tersenyumke arahnya, lagi-lagi Key tak bisa menahan rasa kagumnya pada
senyum Ray yang menawan. Tapi nyatanya dugaan Key salah, Ray tak tersenyum ke
arahnya ia tersenyum ke Anna teman satu kelas Ray. Apa aku tak nampak jelas di hadapanmu, batin
Key menahan kekecewaannya. Key dan Ray memang tak satu kelas karena Key berada
dikelas X sedangkan Ray kelas XI.
Disekolahnya Ray
terkenal sebagai anak pendiam tak heran bila ia hanya bicara pada orang yang
benar-benar dekat dengannya, sedangkan Key hanyalah "teman" yang baru
ia kenal beberapa bulan yang lalu karena perlombaan itu. Tak hanya itu Ray
terkenal sebagai anak pandai rangkingnya selalu bertahan di nomer satu dari
kelas X hingga kelas XII, namun bukan ini yang membuat Key menyukai Ray. Hanya
saja karena setiap di dekat Ray jantungnya tak pernah bisa berhenti berdebar.
Hanya Ray yang mampu membuat ia
gelagapan setiap bertatap muka dengan Ray, walau kejadian itu sangat
jarang tapi Key masih ingat bagaimana wajah Ray nampak begitu jelas di
depannya, setiap lekukan wajahnya ia bisa hafal walau sekali memandang.
Lamunan
Key buyar, ketika ia tahu handphonenya berbunyi, Key tak berani berharap
bahwa yang menelponnya itu Ray ia sudah berungkali berharap tapi hasilnya hanya
membuat luka di hati semakin melebar, ia jelas sadar bahwa tak mungkin bila itu
Ray, ternyata sahabatnya Mely.
"Key,
jalan yuk gue males nih di rumah sendiri," kata Mely singkat.
Hujan sudah reda syukurlah, batin Key. Ia
menengok jam masih jam setengah delpan, belum terlalu malam untuk pergi keluar
sebentar, pikirnya.
"Oke
deh loe jemput gue ya, gue males manggil taksi," jawab Key singkat.
Segera
Key melipat mukenanya segera bersiap. Cardigan merah jambu yang ia beli tempo lalu ia pakai
untuk menutupi kaos pendeknya. Celana pendek yang ia pakai tadi segera ia ganti
dengan celana jeans berwarna sama dengan cardigannya. Rambutnya sengaja ia buat tergerai memanjang untuk
sekedar melindunginya dari dinginnya malam.
Taksi
sudah datang.
"Key
lo belum siap?" teriak Mely dari Taxi seraya mencodongkan sebagian
badannya keluar jendela mobil.
"Mel,
udah malem! Ntar Bu kos marah-marah lagi gara-gara tingkahmu," Key tak
heran dengan tingkah sahabatnya yang selalu membuat keributan dimanapun ia
berada.Tapi bagaimanapun Mely adalah segalanya untuk Key, Mely adalah
kakak,sahabat, bahkan ibu yang baik bagi Key. Mely tak tergantikan sama seperti
Rayhan, batin Key.
Malam
ini ternyata Mely hanya mengajak key jalan-jalan ke toko buku sebelah Alun-alun
kota.
"Key
Key sini deh!" seru Mely.
"Kenapa
sih?" tanya Key diikuti telunjuk tangannya menutupi bibir mencoba
mempertingatkan Mely.
"Ups
sory, sini deh lihat ini kan buku terbarunya Dwitasari," jawab mely
kali ini suaranya lebih ia rendahkan.
"Dwitasari?"
tanya Key bingung, ia tak pernah mendengar nama itu.
"Tunggu
deh Key, lo nggak tahu siapa Dwitasari?" tanya Mely keheranan.
"Enggak,"
jawab Key dengan gelengan kepala.
"Hah
ya ampun! Lo itu hidup terisolasi apa gimana sih Key, ini itu Dwitasari!
Penulis TOP yang kata-katanyaitu selalu ngena banget, gue aja udah follow
twitter dia dan lo tahu setiap tweetnya itu ngejleb banget," kata Mely
seraya mengepalkan tangannya lalu ia daratnkan ke bagian samping tubuhnya.
"Nggak
usah Alay deh!" kata Key sambil memutar bola matanya.
"Ih,
lo nggak percaya ya, udah deh terserah lo deh kalau lo belum pernah denger nama
Dwitasari yang jelas-jelas seluruh remaja Indonesia itu udah kenal dia,
sekarang lo coba beli buku dia deh, ntar
gue yakin lo bakal narik omongan lo," kata Mely berapi-api.
"Ogah
ah, udah deh kalau lo mau beli-beli aja gue mau cepet pulang,"
kata Key meninggalkan Mely diikuti muka kesal dari wajah Mely.
Pulangnya
di Taxi, Mely tak henti-hentinya memuji buku yang baru ia beli.
"Pokok
ya, lo wajib baca ini Key, Dwitasari itu kayak cenayang, apa yang ia tulis
pasti pas banget dengan apa yang kita rasa," kata Mely seraya
membolak-balik buku barunya, Jatuh cinta diam-diam.
"Apa
lagi ya, judulnya ini kan nyindir lo
banget." Lanjut Mely. Keysya hanya mendengus.
"Oh
iya Key, hari ini gue nginep di kosan lo ya, Mama Papa lagi nggak ada di rumah cuma
ada Abang gue, boleh kan ya?" kata Mely lagi.
"Iya
terserah lo deh," jawab Key.
Pujian
Mely terhadap penulis Dwitasari berlanjut, dan Key hanya mangut-mangut
mendengar celotehan sahabatnya.
"Mel,
stop deh ya kita sekarang udah sampai, dan semenjak pulang dari toko
buku sampai kita sampai di depan rumah topik bahasan lo cuma Dwitasari, gue
risih dengernya," tegur Key.
"Oh
ya masak," jawab Mely melongo.
"Hassh
whatever," jawab Key seraya membuka pintu kamarnya.
"Eh
eh Keysya Amorta ya?" tanya teman kamar sebelah Key nyelonong ikut masuk
ke kamar Key.
"Iya
kamu Sisy kan?" jawab Key.
"Ini,
tadi waktu lo keluar ada Pak pos kesini, ngirimin surat dan kayaknya yang
namanya Keysya Amorta disini Cuma lo," jawab Sisy seraya menyerahkan
amplop putih polos bertuliskan alamat kosannya. Dari siapa? Kalau itu dari
orang tuanya nggak mungkin mereka kan bisa langsung nelfon atau sms aku?
tanya Key.
"Oh
iya udah makasih ya Si," kata Key
di jawab senyuman dari Sisy.
"Dari
siapa ya Mel?" tanya Key.
"Ya
mana gue tahu, coba sini gue buka deh," kata Mely seraya mencoba merebut
surat yang ada di tangan Key di ikuti jitakan dari Key.
"Apa-apaan
sih lo ini surat gue, gue dulu dongyang buka," kata Key seraya membuka
perekat amplop.
"Untuk
Adek Kecil...."
Deg,
batin Key.
"Dari
siapa Key?" tanya Mely tak sabar.
"Emmm
Mely lo keluar dulu ya sebentar aja," jawab Key sambil mendorong tubuh
Mely keluar kamarnya.
"Loh
loh loh gue kan mau nginep sini Key!"
kata Mely.
"Iya
ya ntar lo nginep sini sekarang keluar dulu deh ya," kata Key seraya
mengunci pintu kamarnya.
Untuk Adek Kecil.
Bagaimana
kabarmu sekarang? Kuharap kau tak sepenakut dulu saat hujan datang bersama
pentiryang menghatam pendengaranmu hingga aku harus menemanimu. Lama tak
memandang wajahmu semenjak kita sudah berbeda sekolah, lama juga kita tak
saling berhubungan seperti dulu seperti saat pertama aku mengenalmu. Aku tak
mungkin lupa bagaimana saat itu Tuhan menemukan kita dalam ketidak sengajaan
yang mnyenangkan. Tapi kurasa semua di dunia ini tak ada yang tak sengaja
dengan kata lain, pertemuan kita adalah takdir. Aku tahu bagaimana setiap
statusmu di social media yang kau tulis itu untukku,aku juga tahu
bagaimana kecewanya kamu saat aku tak pernah memberi kabar kepadamu. Aku pun
juga kecewa pada diriku sendiri saat aku tahu aku sudah menyakitihati anak
gadis orang, lalu bila sudah seperti ini bisakah aku menjagamu seperti pangeran
dalam mimpi-mimpimu yang pernah kau tulis di blog pribadimu? Maafkan aku ya!
Ini mungkin terlalu klimaks tapi benar AKU MERINDUKANMU, tunggu aku hingga
kembali ya aku pasti datang :')
Rayhan
Surat selesai
Key baca dan seperti biasanya ia menangis seperti saat ia mendengar lagu
favouritnya. Ia rengkuh erat surat yag baru ia baca, ia tak percaya apa ia
bermimpi. Ia menangis keras keras sekali hingga Mely memaksa masuk.
"Loh Key
ada apa lo kenapa nangis? cerita sama gue Key," kata Key seraya memeluk
wanita di depannya yang telah ia kenal 4 tahun lalu.
"Ini Mel
ini,"kata Key tak bisa melanjutkan apa yang ia katakan.
Mely membaca
surat yang sejak tadi Key genggam. Mely hanya mendengus.
"Jadi lo
nangis karena surat ini? Key dengerin gue! Rayhan..."
"Rayhan
nggak mungkin lakuin ini," lanjut Mely.
"Nggak gue
yakin ini pasti Rayhan Mel pasti! Gue yakin," kata Key meyakinkan
sahabatnya.
"Key lo
sadar nggak sih, kata lo Ray setiap ketemu lo dia dingin banget mana mungkin
sih dia ngirim ini, nggak mungkin udah ya ini mungkin cuma akal-akalan orang
kurang kerjaan udah ya dari pada lo nangis lebih baik buang aja," kata Mely.
"Lo kenapa
sih Mel, apa alasan lo ngomong kayak gitu, gue yakin ini Ray dan nggak akan ada
orang yang bisa gubah keyakinan gue! Gue yakin Ray di luar sana juga lagi
kangen sama gue, gue yakin dia bakal kembali buat gue! Gue bakal nunggu dia
sampai dia kembali," teriak Key.
"Teserah
lo deh ya! Ray itu terlalu abu-abu buat lo, lo harus cari cowok baru,"
kata Mely.
"Lo
ngomong gitu karena lo belum pernah nemuin cinta sejati kayak gue," bela
Key.
"Cinta
sejati? Lo itu terlalu dibutain sama cinta sejati imajinasi lo sendiri, Ray aja
nggak pernah respect sama lo!" kata Mely.
"Mel! Apa
sih maksud lo ngomong gitu, lo nyadar nggak sih omongan lo iyu nyakitin hati,"
seru Key menahan tangis yang memang sudah tumpah sejak dari awal ia membaca
surat.
"Gue itu
Cuma mau nyadarin lo Key! Rayhan yang selama ini lo sering mimpiin itu cuma ada
di mimpi lo, gue sebagai sahabat cuma pengen lo bangun dari tidur panjang lo
ngerti," kata Mely seraya keluar meninggalkan Key.
Malam itu Mely
dan Key bertengkar, hanya karena sebuah surat,persahabatan empat tahun lalu
retak.
Dan setiap
harinya setiap mereka bersua tak lagi ada kata "hai" atau gandeng
tangan seperti dulu. Keysya masih tersinggung dengan ucapan Mely, sedangkan
Mely masih gengsi harus menghampiri Key semenjak kejadian semalam.
Satu
bulan, dua bulan mereka masih saling tak mau menyapa. Mereka masih saling
gengsi untuk mengucap maaf. Tapi pada akhirnya Mely yang paling tak tahan
dengan pertengkaran ini. Mely mencoba meminta maaf dengan mengundang Key ke
rumahnya.
Malam
harinya setelah Mely menelfonnya, Key segera menuju ke rumah Mely. Pertengkaran
diantara teman lama memang sangat buruk, batin Key.
Taxi
sudah mengantar Key ke depan rumah Mely, pintu rumah Mely di ketuk tak ada
jawaban dari dalam. Sekali lagi, kali ini pintu terbuka.
"Eh
Key, nyari Mely ya?" tanya Kak Alvin, abang Mely.
"Iya
Bang, Mely nya ada kan?" kata Mely.
"Oh
iya Bang,ini flashdisk yang bulan lalu
aku pinjem," lanjut Key seraya mengobok-obok tas merah jambunya. Disaat
yang bersamaan foto seorang pria berpakaian lengan panjang dengan motif garis
vertikal hijau, tak sengaja jatuh dari dalam tas Keysya. Keduanya terkaget.
"Loh
Key? Lo nyimpen fotonya Ray?" tanya Bang Alvin heran.
"Enggg...
emang Abang kenal sama Rraay?" tanya Key balik.
"Ya
kenal lah dia kan.."
"Woi
Bang!" seru Mely menepuk pundak Abangnnya. Yang di tepuk menoleh, marah.
"Lo
apa-apaan sih Mel, pakai acara ngagetin segala!" kata Bang Alvin.
"Siapa
juga sih Bang yang ngagetin? Abang ini
juga Keysya dateng nggak bilang-bilang sama aku, udah sana pergi!" jawab Mely ketus.
Keysya
hanya tersenyum melihat tingkah dua orang di depannya.
"Eh
Key kita ngomong di kamar gue aja ya?" saran Mely sedikit canggung.
"Oke,"jawab
Key.
Lalu
mereka masuk ke sebuah ruangan penuh dengan ornamen hello kitty, maklum
cita-cita Mely sedari kecil adalah mengoleksi seluruh barang yang berkenaan
dengan hello kitty dan kini koleksinya sudah hampir memnuhi seluruh
barang yang ia miliki.
"Emmm`gue
minta ``maaf ya Key," kata Mely medahului pembicaraan.
"Gue
juga ya Mel, gue terlalu egois nggak pernah denger apa yang lo omongin ke
gue."
"Tapi
Key, sebelum lo maafin gue, gue harap lo mau denger gue sekali ini aja lagi,
setelah itu terserah lo mau marah sama gue pun nggak papa," kata Mely,
kepalanya menunduk.
"Ini
soal Rayhan," lanjut Mely.
"Kenapa?"
"Sebenernya
gue ada hubungan sama Ray, gue udah kenal dia jauh sebelum lo kenal sama
dia," kata Mely, kali ini matanya sudah basah dengan air mata.
Key
hanya menahan nafas berusaha terus mendengar apa yang akan di katakan Mely
selanjutnya, matanya sudah berkaca-kaca.
"Jadi
ini sebabnya lo nggak pernah setuju hubungan gue dengan Ray?" kata Key
berusaha menutupi kegeramannya, matanya menatap lurus ke depan berusaha
mensiasati air matanya agar tak tumpah. Mely hanya diam.
"Mel
jawab gue! Jadi karena ini! Karena lo dan Ray udah pacaran lebih dulu sebelum
gue suka sama dia, iya Mel? Lo jawab gue! " kata Key lagi.
"Lo
jahat Mel," seru Key lirih.
"Bukan
Key, bukan dia bukan pacar gue," kata Mely masih sembab air mata.
Key
menoleh, berusaha menelaah satu persatu yang mely katakan,"Terus siapa lo?
Eh Mel? Lo ngerjain gue ya? Hahaha ini nggak lucu banget Mel," jawab key
kali ini dengan gelak tawa. Namun, Mely masih diam.
"Mel
udah lah stop kali bercandanya, tapi tunggu deh lo sampai nangis kayak gini acting
lo keren deh!" kata Mely seraya membasuh air matanya, tertawa akan
kegilaan sahabatnya barusan.
"Key
lo yang harusnya stop, gimana lo bisa ketawa di saat gue akan ngatain
hal yang nyakitin hati lo!" tegur Mely.
"Apa
lagi sih Mel, udah deh gue akuin acting lo emang keren, udah ya
berhenti."
"Key dengerin gue baik-baik ya kali ini gue nggak bercanda! "Gue adalah yang ngirim surat tempo lalu waktu malem kita bertengkar, gue yang nulis itu bukan Rayhan seperti yang lo bayangin!" kata Mely menghentikan gelak tawa sahabatnya.
"Key dengerin gue baik-baik ya kali ini gue nggak bercanda! "Gue adalah yang ngirim surat tempo lalu waktu malem kita bertengkar, gue yang nulis itu bukan Rayhan seperti yang lo bayangin!" kata Mely menghentikan gelak tawa sahabatnya.
""Hahaha,
lo yang nulis? Nggak mungkin lah gimana bisa lo tahu panggilan gue Adek kecil,
dan gimana lo bisa tahu soal hujan itu?" respon Key berbalik dengan yang
di perkirakan Mely.
"Karena
Ray adalah saudara gue!" jelas Mely.
"Saudara
lo? Loh kok lo nggak pernah ngomong sih, berarti lo tahu dong sekarang dia
dimana? Beritahu gue dong please," kata Key memohon.
"Key
stop! Dengerin gue!" kata Mely.
"Kenapa
gue bisa tahu panggilan Adek kecil yang lo kira adalah panggilan kesayangan itu
karena gue pernah mergokin kalian lagi smsan, dia sama sekali nggak
pernah sedikitpun ada rasa sama lo Key!" kata Mely.
Key
hanya diam, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia harus percaya atau
pura-pura tak mendengar apa yang barusan sahabatnya katakan.
"Gue
udah pernah tanya lagsung ke dia dan jawaban dia nihil, perhatian, panggilan
sayang itu nggak satu-satunya buat lo Key!"
Lalu
Mely menjelaskan semuanya pada Key, bagaimana marahnya ia ketika sahabatnya
begitu saja di permainkan hatinya oleh Rayhan. Ketika Ray tanya bagaimana
perasaan Ray atas Key, dan jawaban Ray "Kita Cuma orang yang di pertemukan
dalam sebuah ajang lomba nggak lebih!" apalagi jawaban Ray saat ditanya
tentang panggilan Adek Kecil yang sering key bangga-banggakan.
"Karena
umur dia di bawah gue, apa gue salah manggil dia Adek kecil, orang-orang yang
di bawah umur gue juga gue panggil gitu kok! Dia aja yang salah ngartiin!"
Penjelasan
Mely yang terakhir benar-benar membuka lebar luka yang berusaha ia sembuhkan
selama ini. Kecewa, hanya itu yang menjelaskan perasaan Key.
"Itu
kenapa gue nggak pernahsetuju dengan hubungan lo sama Ray! Alasan gue nulis
surat itu juga untuk ngehibur lo, Gue nyangka lo suka sama Ray Cuma sementara
ini saja setelah itu lo akan cari cowok lain seperti dulu-dulu, gue juga lega saat Ray akhirnya lulus dan pergi
ke luar negeri untuk nglajutin kuliahnya dan nggak pernah ngasih kabar ke lo
lagi, tapi nyatanya gue salah, lo masih bertahan dengan ketidak pastian yang
Ray berikan."
"Gue
sedih sebenarnya waktu bilang denger Ray nggak pernah suka sama lo, gue nggak
tega ngomong ke lo langsung, di lain sisi Ray adalah saudara gue yang mungkin
lo nggak tahu karena emang sengaja guue sembunyiin dari lo," lanjut Mely.
"Mel
cukup!" kali ini ia tak bisa melanjutkan lagi apa yang ia dengarkan dari
Mely.
"Gue
harus beri tahu ini Key supaya lo sadar, dia bukan pangeran yang nyium lo dan
bangunin lo dari tidur panjang lo! Sama sekali bukan! Lo harus sadar Key!"
kata Mely.
"Gue
nggak bisa percaya ini Mel," kata Key seraya memeluk sahabatnya.
"Lupain
dia ya Key, mungkin butuh waktu lama tapi gue mohon lupain dia gue udah capek
lihat mata lo yang sembab setiap kali kita ketemu," kata Mely, kali ini
pelukannya lebih erat.
"Iya
Mel, gue tau gue salah."
"Nggak
lo nggak salah dia yang salah."
Ketika kita
mencintai seseorang mungkin tak ada kata yang mampu menjelaskan selain kata
ini: Bahagia. Tapi ada kalanya rasa cinta juga melahirkan banyak kata selain
"bahagia" ada kalanya tangis menemani lalu kecewa menyelimuti rasa
cinta. Ketidak pastian adalah salah satu penghalang rasa bahagia itu sendiri.
Kepastian harus di cari bukan di biarkan datang sendiri lalu kita harus menunggu
terlalu lama lalu mengabaikan yang menawarkan kebahagiaan baru hanya untuk menunggu kepastian itu datang.
Siap jatuh cinta berrarti secara tidak langsung harus menyiapkan diri untuk
nantinya sakit patah hati.Kecewa mungkin ketika kita tahu pria yang setiap
hembusan nafas kita sebut dalam doa kita ternyata hanya menganggap kita tak
lebih dari seorang yang lewat saja di hidupnya. Tapi mungkin kita terlalu egois
bila terus mempertahankan perasaan ini lalu mengabaikan yang jelas-jelas datang
membawa kebahagiaan yang kita impikan. Benar bila cinta memang membutakan
setiap mata hati orang, mentulikan setiap yang orang nasihatkan padanya.
Terlalu absurd ketika kita melakukan semua hal atas nama cinta lalu kita
lupa bagaima Tuhan perlu di atas namakan untuk semua hal yang kita lakukan.
Perhatikan baik-baik kata-kata ini "Bila suatu hari kita tak di persatukan
dengan orang yang diam-diam kita sebut namanya dalam doa kita, mungkin kita
akan di persatukan dengan orang yang diam-diam menyebut nama kita dalam doanya."
Percayalah tiada cinta yang lebih abadi daripada cinta-Nya. Terlalu naig
sebenarnya mengucapkan ini, namun
sesungguhnya ada saat dimana kamu harus bangkit berhenti dari ketidakpastian
yang membuatmu terpuruk untuk mencari kepastian yang membawa kebahagiaan, walau
terkadang kenyataan buruk tapi yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk setiap
hambanya, hanya perlu meyakini bila jodoh pati bertemu.
Keysya
menutup diary bercorak merah jambunya, ia berusaha menahan sesak di dadanya
yang sudah mulai menjalar ke anggota tubuh yang lain, Key sadar kisah cintanya
kali ini tak berkhir happyending seperti cerita-cerita negeri dongeng
yang selalu ia impikan setiap malam, bukan sama sekali bukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar